Kisah Penghafal Qur’an dengan Bacaan Sangat Cepat

www.griyaquran.org- Bagi sebagian orang, kemampuan membaca Al Qur’an dengan sangat cepat merupakan keahlian tersendiri. Namun jika kemampuan ini kemudian dipakai untuk menghafal Al Qur’an bisa sangat fatal akibatnya.

Tulisan ini adalah kisah nyata yang menceritakan tentang seorang penghafal Al Qur’an yang harus mengulang hafalannya kembali karena cepatnya bacaan saat ia menghafal.

Beberapa waktu lalu, Griya Al Qur’an, lembaga belajar dan tahfidz Al Qur’an khusus dewasa, membuka lowongan pengajar Al Qur’an. Menjadi pengajar di Griya Al Qur’an memang diprioritaskan seseorang yang sudah tuntas 30 juz hafalannya. Jika belum semua, ia akan diikat komitmen dan janji kapan akan menyelesaikan semua hafalannya. Dari banyaknya surat yang masuk ada satu orang yang menarik untuk diceritakan, sebut saja Ustadz Fulan.

Cerita ini dikisahkan oleh Ustadz Aziz Sulthon, salah satu pengajar Griya Al Qur’an yang kini menjadi Manager Program Sahabat Tahfidz Griya Al Qur’an. “Kami memang memprioritaskan calon pengajar yang sudah tuntas hafalannya 30 juz. Ustadz Fulan ini salah satunya,” kata Ustadz Aziz. Karena memenuhi kriteria awal, Ustadz Fulan dipanggi ke kantor untuk melakukan wawancara yang di  dalam prosesnya, Ustadz Aziz mengecek seberapa kuat hafalan Ustadz Fulan.

“Ustadz bacaannya kok ngebut sekali, apa bisa dipelankan lagi?” minta Ustadz Aziz kepada Ustadz Fulan. “Saya coba ustadz,” jawab Ustadz Fulan menjawab.

“Masih sangat cepat ustadz, panjang pendeknya jadi tidak standar. Beberapa hurufnya justru seperti hilang tidak terdengar. Coba diulangi lagi dengan bacaan yang lebih pelan, dan jelas Ustadz,” kata Ustadz Aziz lagi.

“Hmmm….saya cobanya lagi ustadz.”

“Masih tidak jauh beda dengan bacaan yang pertama Ustadz,” komentar Ustadz Aziz.

“Wah saya tidak bisa Ustadz, saya biasanya kalo membaca, diundang untuk khataman Al Qur’an juga begini ini. Sudah saya coba agar tidak terlalu cepat, tapi tidak bisa. Malah hilang semua hafalan saya,” jawab Ustadz Fulan.

“Ustadz, jika dengan kondisi begini, kami tidak bisa menerima menjadi pengajar di Griya Al Qur’an. Karena standar kami bukan cepatnya membaca, tapi semua huruf terpenuhi hak bacaannya dan dengan panjang pendek yang standar,” balas Ustadz Aziz.

Dalam adegan sesudahnya, Ustadz Aziz menceritakan bahwa Ustadz Fulan ingin memperbaiki hafalannya yang sudah menancap kuat sejak 10 tahun lalu itu.

“Jika sudah menancap dalam hafalan, sulit sekali ustadz. Satu-satunya jalan, antum harus mulai menghafalkan lagi mulai awal,” saran Ustadz Aziz. Karena tidak ada pilihan lagi, akhirnya Ustadz Fulan memulai menghafal lagi dari awal, dan tentu saja akan lebih sulit daripada seseorang yang belum mempunyai hafalan sama sakali.

Karenanya, Ustadz Aziz menjelaskan untuk menghafal, dasar tajwid yang harus benar-benar kuat. Jika sudah kuat, bisa mulai mencoba menghafal. “Dan yang terpenting harus ada guru, yang bisa mengingatkan saat ada bacaan yang salah,” ujarnya.

Di Griya Al Qur’an, ia melanjutkan, para pengajar selalu membenahi bacaan para santri dulu, sebelum mereka naik ke program menghafal. “Meski demikian, kami sudah menggunakan metode sandi yang memungkinkan santri lebih cepat bisa membaca Al Qur’an dengan benar, sehingga bisa segera naik ke program menghafal,” tutupnya.(wir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat