Cara Menghafal Al Qur’an untuk Mahasiswa

www.griyaquran.org- Kesibukan, seringkali jadi kambing hitam seseorang tidak bisa menghafal Al Qur’an. Ini juga yang membuat para mahasiswa merasa kesulitan menghafal Al Qur’an, karena banyaknya tugas kuliah, misalnya. Namun, ada cara yang bisa digunakan untuk para pelajar atau mahasiswa untuk menghafal Al Qur’an tanpa khawatir mengganggu rutinitas belajar.

1. Mengulang ayat yang akan dihafal dengan bacaan al-hadr.

Hal yang paling fundamental untuk kesuksesan dalam tahfiz Al Qur’an adalah terus mengulang-ulang bacaan yang akan dihafal.  Untuk pelajar dan mahasiswa, membaca Al Qur’an dengan bacaan al hadr, bisa dicoba.

Bacaan al hadr yakni tingkatan membaca Al Qur’an yang paling cepat dengan menggunakan ukuran terpendek dalam batas peraturan tajwid. Ini akan membantu mendapatkan banyak bacaan Al Qur’an yang akan dihafal.

2. Mendengar bacaan Al Qur’an melalui multimedia.

Metode mendengar merupakan cara yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Malaikat Jibril ‘alaihissalam sebagaimana QS. al-Qiyâmah/75: 17-18. Dalam proses menghafal Al Qur’an metode mendengar sangat membantu dalam menghafal ayat-ayat Al Qur’an yaitu dengan cara mendengarkan Al Qur’an dengan metode talaqqi atau secara berulang-ulang dan terus menerus.

Untuk zaman sekarang, rasanya sangat mudah mencari atau bahkan mendownload bacaan berbagai qori’ ternama dunia melalui internet. Tinggal cari Namanya di youtube, ketemu. Dengan fasilitas teknologi yang terus berkembang, berarti sangat mudah bagi para penghafal Al Qur’an untuk dapat mendengarkan bacaan Al Qur’an para hafidz dan qori’, baik lokal maupun internasional.

3. Talaqqi Syafahiyyah.

Metode efektif dalam menghafal Al Qur’an adalah bertemu langsung antara guru dengan murid. Metode ini merupakan metode yang paling efektif di antara lima metode lain. Talaqqi Syafahiyah melibatkan peran psikologi karena berfokus pada perilaku dan berbagai proses mental serta bagaimana perilaku dan berbagai proses mental ini dipengaruhi oleh kondisi mental organisme dan lingkungan eksternal.

Metode talaqqi dipelajari dari guru-guru Al Qur’an yang berkompeten sebagaimana metode yang telah ditetapkan oleh Allah dalam menjaga orisinalitas dari perubahan-perubahan serta pembacaan Al Qur’an yang salah.

Sebagaimana Allah berfirman di dalam QS. al-Hijr/15: 9 “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

Metode seperti inilah yang ada di Griya Al Qur’an. Lembaga pembelajaran Al Qur’an dan tahfidz untuk dewasa ini sudah menyiapkan para pengajar yang kompeten, hafidz 30 juz Al Qur’an yang beberapanya mendapatkan sanad yang tersambung hingga ke Rasulullah shallallahu ‘aiahi wa sallam. Tak hanya itu, Griya Al Qur’an juga menggunakan metode Sahabat Tahfidz yang memudahkan para santri untuk menghafal ayat demi ayat hingga tuntas 30 juz.

4. Membagi satu halaman Al Qur’an dibagi empat bagian.

Di dalam Al Qur’an, standar Mushaf Rasm Utsmani satu halaman terdiri dari 15 baris. Peserta tahfiz Al Qur’an dapat membagi satu halaman tersebut dengan 4 bagian yaitu masing-masing sekitar 3-4 baris. Selanjutnya fokus kepada seperempat bagian pertama untuk memulai membaca Al Qur’an. Peserta tahfiz dapat membaca Al Qur’an dengan baik lima baris pertama.

Kemudian teknis menghafalnya yaitu peserta tahfiz Al Qur’an membaca secara terus menerus berkali-kali, dua-tiga kali secara bertahap mulai dari baris pertama, dan kemudian dihafal. Selanjutnya fokus untuk baris kedua dengan membaca berkali-kali dan kemudian dihafal dan seterusnya sampai baris ketiga, dan keempat, dengan cara yang sama. Kemudian peserta tahfiz dapat menghafal dengan metode yang sama untuk selanjutnya menghafal 1/4 bagian kedua dan 1/4 bagian terakhir hingga selesai satu halaman dapat dihafal dengan baik dan lancar.

Metode ini juga digunakan di Griya Al Qur’an. Mushaf yang akan dibagikan kepada santri sudah membagi tiap halaman menjadi 4 bagian. Karenanya, Metode Sahabat Tahfidz Griya Al Qur’an, mempunyai moto “Semudah Menghafal Surat Pendek”. Karena dengan membagi menjadi empat, santri akan merasa mudah menghafal, sebagaimana menghafal surat-surat pendek.

5. Menyambung bacaan yang sudah dihafal ayat demi ayat, halaman demi halaman dan surat demi surat.

Di dalam menghafal Al Qur’an, tentunya ayat demi ayat merupakan satu rangkaian bacaan Al Qur’an yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, diperlukan usaha menghafal dengan proses menyambung ayat demi ayat. Maksudnya adalah menyambung bacaan secara lisan antara akhir-akhir ayat dengan awal ayat berikutnya.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara membuka mushaf Al Qur’an pada ayat-ayat yang akan dihafal dan memusatkan pada ayat terakhir dari setiap ayat dan awal ayat berikutnya. Dengan fokus dan konsentrasi penuh, peserta tahfiz Al Qur’an  dapat melakukan buka tutup mushaf secara perlahan-lahan, menyambung ayat demi ayat, halaman demi halaman, sampai surat demi surat dengan baik.

6. Muraja’ah Al Qur’an setelah salat Maghrib dan satu jam sebelum waktu Subuh dengan lambat (al-Tartil) secara kontinu.

Sebagian orang dan para penghafal Al Qur’an mengungkapkan, bahwasanya menghafal Al Qur’an  itu lebih mudah daripada menjaganya. Sebab menjaga hafalan itu merupakan kewajiban yang harus terus dijaga sampai selamanya. Inilah mengapa muraja’ah tetap harus melekat pada diri seorang penghafal Al Qur’an dan merupakan program yang terus berkelanjutan sampai maut menjemput dan sampai bertemu dengan Allah subhanahu wa ta’ala.

Ketika seseorang telah memulai menghafal Al Qur’an, maka ia dapat membagi dua porsi bagian, di antaranya: Pertama, porsi untuk terus menjalankan aktivitas menghafal Al Qur’an. Kedua, adalah porsi muraja’ah yaitu mengulang hafalan Al Qur’an yang merupakan hal yang sangat penting untuk senantiasa menjaga dan memelihara hafalan agar tidak lupa.

Enam metode ini merupakan metode yang saling berkaitan dan saling membantu antara yang satu dan yang lain. Enam metode inilah yang merupakan metode efektif yang dapat diemplementasikan bagi kalangan pelajar dan mahasiswa untuk dapat menghafal Al Qur’an sebanyak 30 juz dengan baik dan sempurna tanpa mengganggu aktivitas belajar mengajar dan rutinitas sehari-hari. Meski demikian, metode ini tak hanya cocok untuk mahasiswa, namun juga untuk kalangan lain dengan banyak aktivitas. (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat