Tafsir Surat Al-Anbiya Ayat 87- 88, Belajar dari Nabi Yunus

Suaramuslim.net – Kisah Nabi Yunus ‘alaihissalam selalu menarik untuk diceritakan dan diambil hikmahnya. Allah secara khusus menceritakan kisahnya dalam Surat Al Anbiya, ayat 87-88. Berikut penjelasannya.

Terdapat kisah Nabi Yunus ‘alaihissalam dalam Al Quran yaitu sebagaimana Allah ta’ala berfirman dalam surat Al-Anbiya Ayat 87- 88. Berikut adalah tafsir dari surat Al- Anbiya Ayat 87 sebagaimana dilansir dari laman ibnukatsironline.com

Yunus ibnu Mata ‘alaihissalam diutus oleh Allah kepada penduduk kota Nainawi, suatu kota besar yang terletak di negeri Mausul. Yunus menyeru mereka untuk menyembah Allah subhanahu wa ta’ala tetapi mereka menolak dan tetap tenggelam di dalam kekafirannya. Maka Yunus pergi meninggalkan mereka dalam keadaan marah seraya mengancam mereka bahwa dalam waktu tiga hari lagi akan datang azab dari Allah.

Setelah mereka melihat tanda-tanda datangnya azab itu dan mereka mengetahui bahwa nabi mereka tidak dusta dalam ancamannya, maka mereka keluar menuju ke padang sahara bersama anak-anak mereka dengan membawa ternak unta dan ternak lainnya milik mereka yang mereka pisahkan antara induk dan anaknya.

Kemudian mereka memohon kepada Allah dengan merendahkan diri, dan menyeru-Nya untuk meminta pertolongan, semua ternak unta dan anak-anaknya mengeluarkan suara lenguhan, begitu pula sapi dan anak-anaknya, dan juga kambing dan anak-anaknya. Akhirnya Allah tidak jadi menurunkan azab kepada mereka.

Sesudah itu Yunus ‘alaihissalam pergi meninggalkan kaumnya dan menaiki perahu bersama suatu kaum. Di tengah laut, perahu oleng; mereka merasa takut akan tenggelam (karena keberatan penumpang). Maka mereka mengadakan undian di antara mereka untuk menentukan siapa yang bakal dilemparkan ke dalam laut untuk meringankan beban muatan perahu.

Tak disangka, undian jatuh ke tangan Yunus, tetapi satu perahu menolaknya, tidak mau melemparkan Nabi Yunus. Lalu dilakukan undian lagi. Lagi-lagi undian jatuh ke tangan Yunus lagi. Sama seperti sebelumnya, satu perahu menolak hasil undian. Lalu undian pun diambil kembali. Untuk ketiga kalinya, undian jatuh ke tangan Yunus lagi. Hal ini disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui firman-Nya,

“Kemudian ia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.” (Ash-Shaffat: 141).

Karena sudah ketiga kalinya, Yunus dan satu perahu pun menerima keputusan itu. Maka Yunus ‘alaihissalam melucuti pakaiannya dan menceburkan diri ke dalam laut. Dalam wktu yang sama, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan ikan paus dari laut hijau —menurut apa yang diceritakan oleh Ibnu Mas’ud— membelah lautan dan sampai di tempat Yunus, lalu menelannya saat Yunus menceburkan diri ke laut.

Allah telah memerintah­kan kepada ikan paus itu, “Janganlah kamu memakan secuil pun dari dagingnya, jangan pula mematahkan tulangnya, karena sesungguhnya Yunus itu bukanlah rezeki makananmu, melainkan perutmu Aku jadikan sebagai penjara buatnya.”

Menurut riwayat yang sahih, nama ikan paus itu Zun Nun. Lalu dikaitkan dengan nama Nabi Yunus karena ia ditelan olehnya. Makna harfiyahnya ialah orang yang mempunyai ikan besar.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Ketika ia pergi dalam keadaan marah.” (Al-Anbiya: 87)

Menurut Ad-Dahhak, Yunus marah terhadap kaumnya.

Lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya).” (Al-Anbiya: 87).

Atiyyah Al-Aufi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya yaitu memutuskan ketetapan takdir baginya. Seakan-akan Atiyyah menganggap lafaz naqdira ini bermakna takdir. Karena sesungguhnya orang-orang Arab mengatakan qadara dan qaddara dengan makna yang sama.

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.’” (Al-Anbiya: 87).

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa zulumat bentuk jamak, maksudnya gelapnya perut ikan paus, gelapnya lautan, dan gelapnya malam hari. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Amr ibnu Maimun, Sa’id ibnu Jubair, Muhammad ibnu Ka’b, Ad-Dahhak, Al-Hasan, dan Qatadah. Salim ibnu Abul Ja’d mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah gelapnya keadaan di dalam perut ikan besar dan gelapnya laut.

Auf Al-A’rabi mengatakan bahwa ketika Yunus telah berada di dalam perut ikan besar, ia menduga dirinya telah mati. Kemudian ia menggerakkan kedua kakinya, ternyata bergerak, lalu ia bersujud di tempatnya, dan menyeru Tuhannya, “Wahai Tuhanku, saya jadikan di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh manusia ini tempat bersujud kepada Engkau.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan.” (Al-Anbiya: 88). Yaitu Kami keluarkan dia dari dalam perut ikan dan dari kegelapannya.

“Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (Al-Anbiya: 88).

Yakni apabila mereka berada dalam kesengsaraan, lalu berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala seraya bertobat, terlebih lagi jika mereka mengucapkan doa yang disebutkan dalam ayat ini saat mendapat musibah.

Sa’d ibnu Abu Waqqas mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Asma Allah yang apabila disebutkan dalam doa, pasti Dia memperkenankannya; dan apabila diminta dengannya, pasti memberi, yaitu doa Yunus ibnu Mata.” Sa’d bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah doa itu khusus bagi Yunus ataukah bagi seluruh kaum muslim?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Doa itu bagi Yunus ibnu Mata secara khusus dan bagi kaum mukmin semuanya secara umum, jika mereka meyebutkannya di dalam doanya.”

Kontributor: Yetty
Editor: Muhammad Nashir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *