• PROGRAM DASAR

    Belajar Alqur'an mulai nol sampai mahir

    Selengkapnya

  • PROGRAM TARTIL

    Pemantapan belajar Al-qur'an menggunakan Mushaf

    Selengkapnya

  • PROGRAM TAHFIDZ

    Belajar Menghafal Al-qur'an itu mudah dan menyenangkan

    Selengkapnya

  • TRAINING CENTER

    Mencetak guru Al-qur'an yang berkualitas dan kompeten

    Selengkapnya
Dengan Al-Quran Membangun Moral Keadilan dan Kemakmuran

Dengan Al-Quran Membangun Moral Keadilan dan Kemakmuran

Allah telah menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan yang tepat bagi penyelesaian masalah-masalah kehidupan umat manusia. Karena memang Allah lah yang mengadakan kehidupan, dan Allah pula yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk jalan lurus dan benar dalam mengisi kehidupan.

Manusia sudah pasti menginginkan kehidupan yang adil dan makmur. Bentuk nyata kemakmuran dapat dicapai dengan produktivitas fisik, sedangkan keadlian dicapai dengan produktivitas psikis.

Menggapai kemakmuran pada dasarnya lebih mudah dibanding dengan menggapai keadilan. Hal ini dikarenakan kemakmuran berkaitan dengan fisik, dan keadilan membutuhkan kesungguhan manusia dan membangun psikis.

Allah telah menumbuhkan moral keadilan dalam jiwa manusia dengan sifat taqwa yang wujud di hati manusia, antara lain:

“…….Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang akamu kerjakan. (QS. Al-Maaidah:  8 )

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi.Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Qashash: 83)

“Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-Qashash: 84)

Menjadi adil haruslah dibiasakan dari diri sendiri. Semakin besar iman yang dimiliki manusia, rasa keadilam dalam diri pun akan semakin muncul. Tebalnya iman dapat dijaga dengan ilmu dan ibadah-ibadah khusus, namun sifat taqwa dibutuhkan pembiasaan-pembiasaan yang terus menerus agar manusia suka beramal nyata.

Manusia yang sadar dalam ketaqwaannya tidak akan pernah ingin mencelakai dirinya sendiri dan orang lain dengan amal-amal yang buruk dan jahat. Sehingga dia akan selalu menempuh jalan-jalan kebaikan untuk diri dan orang lain. Banyak orang yang ingin mendapat kenyamanan dan kenikmatan untuk diri sendiri digapai dengan jalan menyengsarakan, menyusahkan, mencelakai orang lain. Dapat dipastikan orang yang melakukan tersebut adalah orang yang sedang kehilangan kesadaran. Karena segala kejahatan yang telah dia perbuat dan menghasilkan kenikmatan itu, pada suatu saat akibat buruknya akan dipetik dan ditanggung olehnya. Bila orang-orang ini menyadari tentu mereka tidak akan mau berbuat jahat.

Namun perlu diingat faktor sangat kuat yang mempengaruhi manusia, membisik kedalam hati manusia yaitu bisikan syaitan. Allah berfirman:

Iblis berkata:”Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka”. (QS. Al-Hijr: 39-40)

”Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya).” (QS. Al-Hijr: 41)

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr: 42)

Umat manusia tidak akan pernah mampu menghilangkan sifat-sifat jahat dalam dirinya kecuali harus dengan bimbingan Allah SWT. Manusia akan menjadi makmur dan berkeadilan bila masing-masing manusia telah mengetahui dan menyadari akan adanya musuh yang ada di dalam dirinya masing-masing yaitu iblis yang selalu berusaha menggelincirkan manusia dari jalan lurus yang ditempuh oleh umat manusia.

Dan untuk mengalahkan Iblis laknatullah itu tidak ada cara lain kecuali dengan petunjuk Allah, hidayah Allah, tuntunan Allah, cahaya dari Allah, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan sebenarnya hal itu sudah diketahui oleh nenek moyang kita yang sholih-sholih yang telah bahagia hidup dengan tekun berpegang teguh kepadanya.

Al-Quran Sebagai Pembawa Kabar Gembira dan Peringatan

Al-Quran Sebagai Pembawa Kabar Gembira dan Peringatan

Al-Qur’an memiliki tujuan utama sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan. Didalamnya ada terkandung kisah dan sebab-sebab manusia dirahmati Allah SWT, dan juga kisah dan sebab-sebab manusia di dimurkai Allah SWT. Seharusnya apa yang kita lakukan di dunia ini digunakan sebagai sarana tersebarnya Al-Quran di berbagai penjuru dunia. Ilmu yang kita miliki, harta benda yang kita punya, dapat menjadi jembatan untuk menyebarkan Al-Quran agar seluruh manusia dapat mengetahui kabar gembira dan peringatan dari Allah SWT dan selamat sampai di sisiNya. Allah SWT berfirman:

“Dan demikianlah Kami menurunkan al-Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian ancaman, agar mereka bertaqwa atau (agar) al-Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.” (QS. 20:113)

“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.” (QS. 42:7)

“Dan sebelum al-Qur’an itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat.Dan ini (al-Qur’an) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memeri kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. 46:12)

“Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS. 43:3)

Segala puji hanya bagi Allah yang menurunkan Al-Quran untuk seluruh umat manusia. Pada zaman Rasulullah, para sahabat dan para penerusnya, Al-Quran telah tersebar ke daerah yang sangat luas. Tak hanya itu, bahasa Arab dan pengajaran Islam juga pun telah menyebar ke daerah yang sangat luas.

Allah SWT menghendaki Al-Quran agar dapat dimengerti dan dipahami di berbagai belahan dunia, yang kemudian berbagai terjemahan bahasa muncul agar seluruh manusia memahami kehendak Allah dan petunjuk Allah SWT, walaupun tidak dengan bahasa Arab.

Allah SWT menghendaki Al-Quran menjadi kabar gembira dan peringatan. Orang yang taat kepada Allah SWT bahagia di dunia dan di akhirat akan dimasukkan ke dalam surga. Sebaliknya, celakalah bagi mereka yang tidak taat kepada Allah di akhirat akan dimasukan kedalam siksa neraka. Allah SWT akan memberikan ketenteraman dan kebahagiaan dan perlindungan kepada mereka bagi mereka yang mengikuti petunjukNya.

Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 6:48)

Katakanlah:”Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. 16:102)

“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (QS. 36:11)

Allah SWT juga menjadikan Al-Quran sebagai sesuatu yang dimudahkan untuk dipahami manusia dalam menempuh jalan petunjuk Allah, jalan keselamatan, jalan kebahagiaan, jalan ampunan, jalan yang diridhoi Allah.

“Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan al-Qur’an itu kepada orang-orang yang bertaqwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.” (QS. 19:97)

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” (QS. 33:45)

“Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” (QS. 25:56)

“Dan sebelum al-Qur’an itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (al-Qur’an) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memeri kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. 46:12)

Di dalam surat Al Qamar terdapat 4 ayat yang sama , di dalam ayat ke 17, 22, 32 dan 40 yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah dimudahkan oleh Allah untuk menjadi kabar gembira dan peringatan untuk orang-orang yang ingin menerima peringatan Allah SWT.

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran.” (QS. 54:17)