PENENTUAN KEDUDUKAN KITA

Sebagian besar kita menganggap penentuan kedudukan kita berdasarkan materi yang dipunya. Semakin berpunya, semakin tinggi kedudukan. Padahal menurut Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak.

Dalam hadist yang diriwayatkan Imam Abu Daud dan Tirmidzi, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah berkata, “Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) al-Qur’an nanti, ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya! Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).”

Imam al-Khathabi rahimahullah dalam Ma’âlim as-Sunan (2/136) menjelaskan: Ada dalam atsar bahwa jumlah ayat al-Quran menentukan ukuran tangga surganya. Disampaikan kepada para penghafal al-Quran, ‘Naiklah ke tangga sesuai dengan yang kamu baca dari al-Qurân. Barangsiapa yang menyempurnakan bacaan seluruh al-Qurân maka ia mendapatkan tangga surga tertinggi dan siapa yang membaca satu juz darinya maka akan naik ke tangga sesuai ukuran tersebut. Sehingga ujungnya pahala berada pada ujungnya bacaan.”

Pernyataan imam al-Khatthabi ini disampaikan syaikh al-Albani rahimahullah dan dikomentari Syaikh al-Albani rahimahullah dengan pernyataan:

“Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan Shâhibul Qur’ân (orang yang membaca al-Qur’an) di sini adalah orang yang menghafalkannya dari hati sanubari. Sebagaimana hal ini ditafsirkan berdasarkan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain, ‘Suatu kaum akan diimami oleh orang yang paling menghafal Kitabullah (al Qur’an).’

Kedudukan yang bertingkat-tingkat di surga nanti tergantung dari banyaknya hafalan seseorang di dunia dan bukan tergantung pada banyak bacaannya saat ini, sebagaimana hal ini banyak disalahpahami oleh banyak orang. Inilah keutamaan yang nampak bagi seorang yang menghafalkan al-Qur’an, namun dengan syarat hal ini dilakukan untuk mengharap wajah Allâh Azza wa Jalla semata dan bukan untuk mengharapkan dunia, dirham dan dinar. Ingatlah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

أَكْثَرَ مُنَافِقِي أُمَّتِي قُرَّاؤُهَا

“Kebanyakan orang munafik di tengah-tengah umatku adalah qurro’uha (yang menghafalkan al Qur’an dengan niat yang jelek).” [HR. Ahmad, sanadnya hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh al-Albani dalam 750].

Mengusahakan mempunyai kedudukan tinggi kelak, tentu saja keniscayaan bagi seorang mukmin. Cara yang paling mudah adalah berkumpul dengan Shohibul Qur’an, orang-orang yang dekat dengan Al Qur’an, para pembelajar Al Qur’an atau para penghafal Al Qur’an.

Mari berkumpul bersama mereka di Griya Al Qur’an, lembaga pengajaran Al Qur’an khusus dewasa dengan para pengajar yang hafidz.

Hubungi kantor-kantor Griya Al Qur’an di kota-kota terdekat Anda. Tidak ada kata terlambat untuk belajar Al Qur’an dan menghafalnya. Bismillah. {}

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *