Imam Masruri, Mondok Tak Sampai Sehari, Hafal 30 Juz

www.griyaquran.org- Menghafalkan Al Qur’an, tak semuanya bisa semulus rencana awal.

Imam Masruri, Wakil Direktur Griya Al Qur’an menceritakan lika-liku proses menghafal Al Qur’an, hingga akhirnya tuntas 30 juz.

Pria 35 tahun itu mengaku bahwa dirinya tidak pernah kerasan di pondok. Meskipun demikian, sudah mencoba berulangkali untuk masuk pondok pesantren khusus tahfidz, namun selalu tidak bisa belangsung lama. “Ini kendala paling utama,” katanya.

Saat SMA, Masruri mulai mencoba mondok. Ia belajar di pondok sekaligus di sekolah. Pagi sekolah, sore mondok. Namun lagi-lagi tidak pernah lama, hanya berlangsung seminggu-dua minggu. Karena itu, ia memutuskan untuk menghafal Al Qur’an secara otodidak di rumah. Selepas SMA, ia berhasil menghafalkan 7,5 juz. A

Selepas SMA, pria yang akrab dipanggil Ustadz Masruri itu, terus berusaha untuk menuntaskan hafalannya. Ia pun mendaftar ke pondok pesantren khusus tahfidz Al Qur’an. Namun lagi-lagi, tidak berlangsung lama. Kali ini lebih singkat, tidak sampai sehari.

“Di sana, pagi saya datang, sebenarnya untuk langsung belajar. Eh ternyata sorenya langsung pulang. Mungkin ini mondok tercepat yang pernah ada,” kenangnya sambil tertawa.

Karena selalu gagal menjadi santri pondok, Masruri pasrah. Ia kemudian memutuskan tidak lagi ke pondok pesantren untuk melanjutkan hafalannya. Masruri memilih melanjutkan kuliah ke UIN Sunan Ampel jurusan Tafsir Hadist. Hingga akhir kuliah, ia tak lagi menghafalkan Al Qur’an. “Saat itu saya menganggap hafalan saya sudah hilang,” katanya.

Lulus dari kuliah, sebagaimana lulusan lain, Masruri mencoba memasukkan beberapa surat lamaran pekerjaan, dan dipanggil. “Saya tidak mengambilnya, karena tidak sesuai dengan hati nurani. Katanya dibutuhkan superviser, lha kok saya akan dijadikan sales. Piye to?,” terangnya. Masruri hanya sekali itu menolak pekerjaan. Bukan karena setelah itu ia menerima tawaran pekerjaan, tapi karena tak ada lagi panggilan.

Tetiba saja ia teringat telah menyia-nyiakan hafalan Al Qur’an yang sudah pernah ia punya. Ia juga ingat dan yakin bahwa Al Qur’an adalah sumber segala solusi kehidupan. “Saat itu, saya mulai berpikir, mengapa saya tidak mulai menghafal Al Qur’an? Setelah itu saya mantap harus menghafalkan Al Qur’an kembali. Bismillah, mantap,” katanya.

Ia kemudian mendaftar ke Mahad Umar bin Al Khattab yang ada di Surabaya. Pengalamannya di Mahad Umar ternyata sangat berbeda dengan pengalaman-pengalamannya terdahulu. Dulu yang biasanya tidak kerasan, ini kok mulai kerasan hidup di pondok.

“Saya tua sendiri, langsung jadi sesepuh, karena teman-teman pondok masuknya setelah SMA, tapi ya cuek aja,” katanya.

Masruri menceritakan bagaimana Allah memberinya solusi dari berbagai permasalahan. Ia merasa Allah memberinya berbagai kemudahan saat memutuskan untuk mendekatkan diri dengan Al qur’an. “Di mahad, nyaman sekali, mondoknya gratis, sudah begitu ada penginapan yang sangat layak dan makan yang gratis dari donator, saya tuntas hingga 30 juz di sini,” akunya.

Jika di pondok-pondok sebelumnya ia hanya bertahan seminggu bahkan tidak sampai sehari, di Mahad Umar bin Al Khattab, ia bertahan selama 2 tahun. “Itupun saya tambah lagi setahun untuk terus tinggal di sana, sebagai pengabdian. Jika tidak karena sungkan, saya mungkin terus di sana,” ujar pria kelahiran 10 Juni 1984 itu sambal tertawa.

Ia kemudian menegaskan kembali bahwa Al Qur’an memang benar-benar menjadi solusi hidup ketika manusia ingin mendekatkan diri dengan Al Qur’an. “Jika saat itu saya terus berusaha keras mencari pekerjaan, dan tidak berpikir menghafal lagi, saya tidak tahu bagaimana jadinya saya sekarang ini, alhamdulillah,” tutupnya.(wir)

One thought on “Imam Masruri, Mondok Tak Sampai Sehari, Hafal 30 Juz

  • July 17, 2019 at 10:19
    Permalink

    maasyaaAllah kisahnya sangat inspiratif sekali

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat