Latar Belakang

Karena dakwah adalah nanti bagaimana, bukan bagaimana nanti…

Seiring perjalanan waktu, dunia dakwah dan syi’ar Islam di Indonesia semakin hari semakin berkembang baik dari sisi pelaksana, organisasi, strategi dan ruang lingkupnya. Hal ini tentu sangat menggembirakan dan patut di syukuri serta di dukung dengan segenap kemampuan yang ada.

Dalam ruang lingkup wilayah, khususnya di lingkup gerbangkertasusila hingga propinsi Jawa Timur, kini semakin di rasakan perlunya semakin banyak wadah untuk melaksanakan kegiatan dakwah, tarbiyah dan syi’ar Islam yang lebih serius dan tertata rapi dalam suatu organisasi formal, dengan tetap mengedepankan pijakan kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Kebutuhan pegiat dakwah untuk bertaktifitas dan kebutuhan obyek dakwah untuk menerima masukan ilmu dan informasi sudah waktunya di layani dengan lebih baik lagi.

Di sisi lain, keprihatinan akan masih kurangnya pemahaman dan penguasaan umat Islam terhadap Al Qur’an harus segera direspon. Kondisi bangsa yang belum juga berubah banyak ke arah kemajuan diyakini salah satu penyebabnya rendahnya penguasaan umat Islam terhadap Al Qur’an yang berakibat kepada mentalitas, akhlak, tata nilai, hukum dan kepribadian umat yang jauh dari nilai-nilai Al Qur’an. Dari hal itu, sekitar 2 tahun yang lalu muncul pemikiran untuk merealisasikan terbentuknya sebuah lembaga dakwah yang mempunyai fokus pada pembelajaran dan pemahaman Al Qur’an, yang diberi nama Griya Al Qur’an.

Jika selama ini mayoritas lembaga yang bergerak dalam pembelajaran Al Qur’an lebih banyak terdapat di lingkungan masjid dan pondok pesantren, Griya Al Qur’an mempunyai fokus untuk menggarap wilayah perkotaan, dalam istilah bisnis “lebih mendekati pelanggan”. Hal ini juga untuk menumbuhkan kesan bahwa belajar Al Qur’an dapat dikemas dengan metode terstruktur, jadwal yang fleksibel dengan aktivitas sehari-hari masyarakat perkotaan, dan yang tidak kalah penting dikelola dengan manajemen yang profesional. Konsep pembelajaran yang diimplementasikan pada akhirnya adalah perpaduan antara sekolah formal dengan kursus.

Dirintis awal Sya’ban 1428 Hijriyah di Deltasari Sidoarjo, label yang dipakai pertama kali adalah Rumah Al Qur’an. Pengembangan Rumah Al Qur’an tersebut kini telah hadir di Surabaya, dengan nama Griya Al Qur’an.

Griya Al Qur’an adalah satu upaya kecil menapakkan jejak dakwah berupa ikhtiar untuk memasyarakatkan kebiasaan membaca dan menghafal Al Qur’an khususnya di kalangan usia dewasa, tentunya dengan bacaan yang baik dan benar sebagaimana sejak Malaikat Jibril mengajarkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, turun temurun kepada para sahabat dan salafus shalih hingga sekarang.

Menghafal Al Qur’an kini bukan lagi monopoli santri di pondok pesantren saja, namun telah dikemas untuk kalangan profesional, pekerja, ibu rumah tangga, mahasiswa dan kalangan lainnya, dengan suasana yang menyenangkan dan dalam lingkungan belajar yang tertata rapi.

Seiring perjalanan waktu dan dengan ijin Allah SWT, sejak dari Delta Tama VII Nomor 9 Komplek Deltasari Baru kemudian Dinoyo 57, saat ini Griya Al Qur’an Alhamdulillah dapat melebarkan sayap hingga ke Sidoarjo. Hal itu ditandai dengan beroperasinya kelas di Puri Indah B-22 (Sekarang pindah ke Ruko Puri Indah) pada bulan April 2009, yang hingga saat ini sedang membina 72 orang siswa. Harapan, semangat dan tekad untuk senantiasa mengembangkan usaha dakwah ini tentu saja tidak akan disia-siakan dan akan diusahakan semaksimal mungkin dengan merangkul potensi-potensi dari pihak-pihak yang mempunyai kesamaan Visi dan pandangan khusunya dalam hal manhaj dakwah serta mempunyai kesatuan hati untuk menegakkan Islam di muka bumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *