Tiga Tingkatan Memaafkan yang Perlu Diketahui

Ajaran moral pertama yang dimiliki oleh umat muslim atas kesalahannya dan keteledoran orang lain adalah memaafkan. Sebuah sikap agung yang mungkin sangat mudah diucapkan, namun sangat sulit untuk dilakukan.

Memaafkan bukanlah hanya sekedar kata saja. Memaafkan juga perlu diimbangi dengan sikap tidak emosi atau amarah, tidak berbuat kasar, dan tidak pula menampakkan wajah cemberut. Karena pada hakikatnya sikap memaafkan adalah kesabaran, keramahan, dan kelemahlembutan.

Perlu diketahui bahwa memaafkan bukanlah hanya ditujukan pada mereka yang kedudukan sosialnya lebih tinggi dari kita. Hal itu justru ketidakberdayaan, karena memaafkan adalah bersabar dan memaklumi setiap kesalahan, baik dari mereka yang lebih kaya, lebih miskin, lebih dewasa, lebih muda. Tidak juga memandang status sosial yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah.

Allah berfirman:

“(Sama saja apakah) kamu memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak. Meskipun kamu memohonkan ampunan bagi mereka sebanyak tujuh puluh kali, Allah tidak akan pernah mengampuni mereka.” (QS. At Taubah: 80)

Terdapat tiga tingkatan dalam memaafkan:

1. Menahan amarah

Tingkatan pertama dari memaafkan adalah menahan amarah. Cobalah untuk mengendalikannya dan tidak menyikapi kesalahan orang lain dengan cacian, bentakan, dan sikap-sikap negative yang lain.

Rasul bersabda:

“Barang siapa menahan amarah padahal dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya pada Hari Kiamat di atas kepala-kepala makhluk. Dia pun diperkenankan memilih bidadari mana pun yang dia inginkan.” (HR. Abu Dawud)

2. Memaafkan dan bersikap lembut terhadap orang yang berbuat salah

Setelah menahan amarah, tingkat kedua dari sikap memaafkan adalah bersikap lembut terhadap orang yang berbuat salah. Memberi maaf merupakan bentuk kebaikan dan sikap yang positif. Seseorang boleh, dan bahkan dianjurkan untuk memberi maaf kepada orang lain yang berbuat salah sesuai dengan haknya. Allah berfirman:

“Maka maafkanlah mereka dengan cara yang baik.”(QS. Al Hijr: 85)

3. Berbuat baik kepada orang yang berbuat salah

Tingkat tertinggi dari sikap memaafkan adalah berbuat baik kepada mereka yang telah berbuat salah kepada kita. Mampu menahan amarah adalah baik, bersikap lembut dan lunak terhadap orang yang bersalah adalah baik, namun akan lebih baik jika kita mampu dan mau berbuat baik kepada orang yang telah berbuat jelek pada kita. Hal ini berarti kita membalas kejelekan mereka dengan kebaikan.

Allah berfirman:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya mencakup langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 133-134)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *