hindari marah, memberi maaf, jalin silaturahmi

Hilangkan Kemarahan Dalam Diri

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, maka sesungguhnya ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Berilah aku wasiat”. Maka beliau bersabda, “Janganlah engkau marah”. Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, namun beliau tetap bersabda, “Janganlah engkau marah”. (HR. al-Bukhari no.6116)

Ketika manusia telah terjerat emosi kemarahannya, maka banyak kerusakan yang mungkin saja ia perbuat. Misalnya saja memecahkan gelas, menyakiti orang, memutuskan tali silaturahmi, bahkan hingga membunuh. Inilah mengapa marah perlu dihilangkan dalam diri. Sebagai umat muslim kita harus berpikir cerdas, hati-hati dan penuh hikmah. Sebab, di antara sifat kaum mukminin, Allah telah menyebutkannya dalam firmanNya:

dan apabila mereka marah mereka memberi maaf” (QS. Asy-Syura: 37).

Rasulullah menerangkan satu logika yang berbeda dengan pandangan orang pada umumnya tentang manusia yang kuat. Orang kuat, bukanlah orang yang berotot kekar

Orang yang kuat bukanlah dengan mengalahkan (yang lain). orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan diri ketika dilanda kemarahan” (HR. al-Bukhari no.6114 dan Muslim no.2609).

Adapun jenis marah yang terpuji, yaitu marah karena Allah, sebagaimana dipraktekkan oleh Rasulullah yang marah ketika larangan-larangan Allah dilanggar dan perintah-perintah Allah diabaikan. Beliau marah karena Allah, bukan untuk membela dirinya atau karena tersinggung. Beliau justru berlapang dada dan memaafkan orang-orang yang menyakiti beliau. Oleh karena itu, jadilah manusia yang tidak mudah marah dan mudah memaafkan. Allah SWT berfirman:

maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah(QS asy-Syura:40).

Hendaklah saling memaafkan akan sikap orang lain yang mungkin menyinggung perasaan kita. Yakinlah bahwa dengan maaf, lapang dada dan membalas dengan cara baik itu akan mengubah api permusuhan menjadi persahabatan yang sangat kental. Allah Ta’ala berfirman:

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”. (QS Fushshilat:34).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *