Malu Saat Belajar Al Qur’an? Ini Tips dari Santri Griya Al Qur’an

www.griyaquran.org- Bagi orang yang sudah dewasa, memulai belajar Al Qur’an tidaklah mudah. Selain harus bekerja keras dalam membetulkan berbagai bacaan yang sudah menancap lama, ia juga harus mengalahkan rasa malu yang ada.  Jika sudah berhasil mengalahkan rasa malu, perkembangan demi perkembangan akan diraih.

“Saya dulu malu sekali saat mulai akan belajar membaca Al Qur’an. Sudah lama inginnya, maju-mundur terus,” aku Susanto, santri Griya Al Qur’an Cabang Jakarta di PT Sucofindo (Persero) Pusat yang ada di Jalan Raya Pasar Minggu  Jakarta.

Pria 49 tahun ini kemudian bercerita tentang ketakutannya saat akan bergabung dalam kelas Al Qur’an yang ada di PT Sucofindo pusat. “Saya khawatir jika hanya saya yang tidak bisa, eh ternyata semuanya hampir sama, banyak yang gak bisa. Jadi enjoy aja,” kata Susanto. 

Saat placement test, ia menceritakan, bahwa Susanto masuk di kelas Dasar 1, kelas yang membenahi panjang-pendek bacaan dan makhorijul huruf. “Alhamdulillah, sekarang saya sudah menginjak kelas tahfidz. Masih di surat Al Insyiqaq, mohon doanya agar istiqomah,” katanya.

Pak Susanto punya tips untuk mengalahkan rasa malu pada diri saat akan memulai belajar Al Qur’an. Ia mengatakan bahwa rasa malu itu sebenarnya bersumber pada ketakutan-ketakutan yang dibuat sendiri. “Saya dulu takut jika dalam satu kelompok saya yang paling tidak bisa. Itu hanya ketakutan saja, padahal, semuanya sama,” katanya sambal tertawa.

Pria yang saat ini menjabat sebagai IT Sistem Spesialis PT Sucofindo pusat ini juga menyampaikan bahwa rasa malu bisa dikalahkan motivasi lainnya yang sangat kuat. “Saya termotivasi anak saya yang kemampuan bacaannya jauh melebihi saya karena sudah belajar di sekolahnya,” katanya.

Kemudian, pria kelahiran 30 Agustus 1970 ini memutuskan untuk belajar secara diam-diam. “Anak istri saya tidak saya beritahu. Tiba-tiba saja bisa. Selain itu, sebagai kepala keluarga di rumah, saya takut jika bacaan saya salah saat menjadi imam di rumah,” katanya.

Tips terakhir dari Susanto adalah mengingat kematian. “Sebelum saya dipanggil Allah, saya harus bisa mengaji,” tegasnya. Ia kemudian menyarankan untuk segera mulai tanpa pertimbangan apapun. “Karena kita bisa kehabisan waktu untuk mempertimbangkan apa yang belum tentu terjadi,” katanya. (wir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat