Dengan Taqwa, Jiwa Menjadi Lebih Sejahtera Lahir dan Batin (I)

Setiap manusia membutuhkan kesejahteraan lahir dan batin bagi dirinya masing-masing. Namun tak sedikit pula yang belum menemukan cara membekali diri dan keluarganya untuk dapat selalu sejahtera lahir dan batin. Allah berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.” (QS. Ath-Thalaaq[65]: 2)

“Dan memberinya rejeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaaq: 3)

“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaaq: 4)

Ketaqwaan adalah sebuah jalan istimewa untuk membangun dan melestarikan kesejahteraan dan kebahagiaan jiwa. Dengan taqwa manusia akan memiliki jiwa optimis dan jalan-jalan kesuksesan yang teguh dan stabil. Orang yang memiliki ketaqwaan akan banyak sekali mendapatkan petunjuk-petunjuk Allah dalam menempuh hidupnya, sehingga hidupnya selalu berada di jalan Allah.

Mengandalkan keberhasilan materiil semata, tanpa didasari jiwa taqwa banyak memunculkan kesombongan di saat sukses datang kepadanya, dan rasa keputusasaan di saat dalam kegagalan dan dalam kesulitan yang menghimpit. Allah berfirman:

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yuunus: 12)

“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia: dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.” (QS. Al-Israa’: 83)

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Dia memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang dia pernah berdo’a (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah:”Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka”.’ (QS. Az-Zumar: 8 )

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat