Seseorang yang Beruntung Karena Shalatnya

Di antara banyak amal yang membuat seseorang mendapatkan keberuntungan adalah dari shalatnya, baik fardhu maupun sunnah. Allah berfirman:

“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS al-Baqarah [2]: 5)

Mereka yang dimaksud ayat ini adalah orang yang beriman kepada hal gaib, mendirikan shalat, bersedekah dari sebagian hartanya, beriman kepada Alquran dan kitab sebelumnya, serta meyakini hari akhirat (QS al-Baqarah [2]: 2-4)

Secara bahasa, shalat berarti doa. Sehingga orang yang melakukan shalat berarti orang yang sedang berdoa kepada Allah SWT. Shalat juga ditujukan sebagai bentuk penghambaan dan pendekatan diri kepada Allah.

Orang yang shalat adalah termasuk ke dalam orang yang beruntung. Beruntung yang dimaksud tidak hanya dalam kehidupan dunia, tetapi juga dalam kehidupan akhirat.

Ia beruntung karena dengan shalatnya, Allah menjadi dekat dengannya, dan dengan shalatnya pula ia tercegah dari perbuatan keji dan mungkar atau perbuatan buruk. Allah berfirman:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS al-‘Ankabut [29]: 45).

Orang yang telah dekat dengan Allah akan selalu dicintai oleh-Nya dan dilindungi dari hal-hal tercela, doanya selalu dikabulkan, dan dijauhkan dari hal-hal buruk.

Jika suatu hari manusia tertimpa suatu cobaan, misalnya sakit, itu sejatinya ujian kesabaran dari Allah yang justru akan meningkatkan kualitas dirinya di hadapan Allah dan manusia. Dengan shalatnya pula, seseorang akan bersih lahir batin.

Lahirnya bersih karena sebelum shalat ia selalu berwudhu, membasuh bagian-bagian wajah, tangan, kepala, dan telapak kaki. Allah berfirman:

 “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS al-Ma’idah [5]: 6).

Orang yang menegakkan shalat, hatinya akan jauh dari rasa dengki, takabur, riya, sum’ah atau prasangka buruk. Hatinya selalu diisi dengan Alah, rasa syukur, ikhlas, dan prasangka baik. Hati dan perilakunya selalu terkontrol dan ketika suatu saat berbuat salah ia segera sadar dan kembali kepada Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat