Pribadi Rasulullah sebagai Suri Tauladan

Dikisahkan pada suatu hari Aisyah RA menceritakan bahwa orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah SAW, lalu mereka berkata, “kehancuran atas kalian.” Aisyah lalu membalasnya, “begitu juga atas kalian, mudah-mudahan Allah melaknat dan memurkai kalian.”

Rasulullah SAW lalu bersabda:

“Tenanglah wahai Aisyah! Hendaknya kamu berlemah lembut dan jauhilah kekerasan (kekejaman) dan ucapan kotor.” Aisyah menjawab, Apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakan, wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, Apakah engkau juga tidak mendengar apa yang aku katakan? Aku pun sudah menjawabnya, (doaku) kepada mereka dikabulkan, sedangkan (doa mereka) kepadaku tidak dikabulkan.” (HR Bukhari-Muslim).

Adapun Abu Hurairah RA menceritakan bahwa suatu hari ada orang Arab Badui yang buang air kecil di masjid. Para sahabat pun marah dan hampir saja memukulinya. Sungguh mulia sikap Rasulullah, Rasulullah mencegah mereka dan bersabda:

“Biarkan dia (menyelesaikan kencingnya), dan siramlah kencingnya dengan seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk memberikan kemudahan bukan untuk memberikan kesulitan.” (HR Bukhari).

Rasulullah memang pantas menjadi suri tauladan bagi kita semua. Bagaimana tidak? Di tengah banyaknya yang menghujat dan berusaha menyakiti, Rasulullah masih menunjukkan kasih sayangnya dan bersikap lemah lembut. Pribadi yang menakjubkan dari Rasulullah ini diteladankannya dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah berusaha mengajarkan pada kita bahwa bersikap lemah lembut dalam bermasyarakat merupakan cerminan dari ajaran Islam yang rahmatan lil ’alamin. Allah bersabda:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS al-Hujuraat [49]: 13).

Sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, Islam berlaku universal sehingga kehadiran dan manfaatnya harus dinikmati seluruh umat manusia, baik Muslim maupun non-Muslim. Allah bersabda:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu agar menjadi rahmat bagi seluruh alam, baik manusia maupun alam lainnya.” (QS al-Anbiya [21]: 107).

Oleh sebab itu di setiap dakwahnya, Rasul selalu mengedepankan pendekatan yang sangat bijaksana (hikmah), penuh kearifan, nasihat yang baik (mauidzotul hasanah), melahirkan kondisi yang sejuk, damai, dan memperbanyak dialog (wajadilhum billati hiya ahsan) yang kemudian melahirkan saling pengertian dan memahami di antara kita.

Dalam kehidupan bermasyarakat, banyak peristiwa kekerasan terjadi yang bahkan menelan korban jiwa. Sebagai umat muslim seharusnya kita dapat lebih bersikap bijaksana dan lemah lembut seperti yang selalu diajarkan Rasulullah. Mengedepankan kebersamaan dalam menyelesaikan persoalan perbedaan di antara kita perlulah untuk diterapkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *