Pesan Kiai Maimoen Zubair Kepada Para Hafidz

www.griyaquran.org Beberapa hari lalu, Indonesia berduka karena wafat seorang kiai yang sangat karismatik dan disegani semua kalangan. Sosok hebat itu adalah KH. Maimoen Zubair. Semasa hidupnya, pria yang akrab dipanggil Mbah Moen itu pernah mengingatkan para penghafal Al Qur’an.

Dalam sebuah ceramahnya, yang dilansir NU Online, ia pernah mengingatkan para penghafal Al Qur’an. Ia mengatakan bahwa ada 3 model penghafal Al Qur’an.

“Pertama, penghafal Al Qur’an yang dzalimun li nafsih. Meskipun penghafal Al Qur’an, ia adalah seorang yang dzalim pada diri sendiri dengan tindakan maksiatnya,” ujarnya. Model ini, ujarnya, terbukti ada. Ini adalah model terburuk dari penghafal Al Qur’an. Hafalan Al Qur’annya, tak membuatnya berhenti berbuat maksiat.

Kedua, adalah model muqtashid. Yaitu, penghafal Al Qur’an dengan jumlah mutu amal dan ibadahnya sedang-sedang saja, kata Mbah Moen.

“Model yang ketiga adalah sabiqun bil khairat,” ujarnya. Model ini, merupakan model terbaik, yaitu seorang penghafal Al Qur’an yang sukses mengkaji Al Qur’an, mengamalkan, mengajarkan, dan membimbing orang lain untuk mengamalkan Al Qur’an. “Begini seharusnya para penghafal Al Qur’an,” tegasnya.

Ia kemudian berpesan bahwa, perlu bagi kita mencermati diri agar menjadi versi terbaik para penghafal Al Qur’an, menjadi penghafal yang sabiqun bil khairat.

Dalam ceramah tersebut, ia juga menceritakan bahwa di zaman Rasulullah dahulu banyak sahabat yang tidak hafal hingga 30 juz. Tetapi, mereka mahir menghafalkan beberapa surat Al Qur’an namun dengan pemahaman makna yang mendalam dan benar-benar meresapinya.

Jika dibandingkan jaman sekarang, sudah banyak orang-orang yang hafal 30 juz, namun tidak satupun ayat yang dipahami dan diresapi maknanya. Ia benar-benar menekankan bahwa Al Qur’an tidak hanya untuk dibaca dan dihafalkan. Al Qur’an harus benar-benar dipahami, dikaji, dan diamalkan secara utuh. Dengan begitu, versi terbaik seorang penghafal Al Qur’an pun dapat dengan mudah didapatkan.

Hingga akhir hayatnya ia tetap teguh menyebarkan syiar-syiar Islam. Dakwahnya yang terkesan damai dan mengena pun makin disukai banyak orang. Dalam berbagai ceramahnya ia selalu berpesan agar umat Islam tidak pernah melupakan Al Qur’an dan kitab kuning. Karena, dari dua hal tersebut, kita dapat menjadi umat Islam yang utuh dan matang.

Semasa hidupnya, Mbah Moen juga pernah menulis sebuah buku berjudul Al Ulama Al Mujadiddun: Majalu Tajdidihim wa Ijtihadihim. Buku ini sampai sekarang menjadi rujukan para santri untuk belajar.

Ia kemudian dikabarkan wafat ketika menjalankan ibadah haji. Ia dikenal karena kiprahnya dalam dunia Islam dan patut menjadi teladan.

Mbah Moen merupakan pimpinan Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang. Sedangkan kiprahnya dalam dunia politik, ia menjabat sebagai Ketua Majlis Syariah PPP. Mbah Moen lahir di Sarang, Rembang 28 Oktober 1928. Ia juga merupakan putra dari Kiai Zubair yang pernah berguru pada Syaikh Said Al Yamani dan Syaikh Hasan Al Yamani Al Makky.

Di masa mudanya, ia menuntut ilmu di Pesantren Lirboyo, Kediri di bawah bimbingan KH. Abdul Karim. Selama disitu pula, ia juga mengaji pada KH. Mahrus Ali. Dan pada umurnya yang ke 21, Mbah Moen lebih mendalami agama lagi dengan studi di tanah Hijaz (Arab Saudi). Selamat jalan kiayi, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberimu tempat terbaik di sisiNya. (ipw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat