Pentingnya Menumbuhkan Taqwa Dalam Diri

Taqwa adalah perasaan takut kepada Allah SWT di hati seorang beriman. Perasaan ini merupakan fitrah yang akan tetap terjaga jika tekun memegang teguh petunjuk Allah.

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. 42:52)

Seseorang yang mempunyai taqwa merasakan kenikmatan jiwa jika dirinya dapat menjalankan perintah Allah, sekaligus bisa menjauhi larangan Allah dalam rangka taat kepada Allah. Kehidupan penuh taqwa akan mendapatkan curahan nikmat dari Allah sebagaimana firman-Nya:

Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertaqwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui. (QS. 2:103)

Katakanlah:”Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas. (QS. 39:10)

Tetapi orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya.Allah tidak akan memungkiri janji-Nya. (QS. 39:20)

Manusia yang tidak mengenal ketaqwaan akan jatuh dalam perbuatan keji dan sombong. Manusia dengan sifat buruk ini tidak merasa khawatir sedikitpun dan bahkan sangat bangga dan merasa nikmat dengan sifat-sifat buruk tersebut.

Sebagai bukti, dalam Al Quran dikisahkan Fir’aun dengan kesombongannya, serta umat Nabi Luth yang sangat kecanduan dengan perbuatan keji, yang pada akhirnya keduanya sama-sama mendapat kehancuran

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan menbawa ayat-ayat Kami, dan Kami perintahkan kepadanya):”Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah”. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. (QS. 14:5) 

“Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa,” (QS. 79:15)

“Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah lembah Thuwa;” (QS. 79:16)

“Pergilah kamu kepada Fir’aun, susungguhnya dia telah melampaui batas,” (QS. 79:17)

“dan katakanlah (kepada Fir’aun):”Apakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)” (QS. 79:18)

“Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya” (QS. 79:19)

“Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mu’jizat yang besar.” (QS. 79:20)

“Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai.” (QS. 79:21)

“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. 43:54)

“Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut),” (QS. 43:55) 

Demikian pula kepada umat yang telah berbuat sangat keji dan diperingatkan oleh seorang Nabi, yaitu Nabi Luth namun umat Nabi Luth malah menolak untuk beriman dan bertaqwa, maka juga berakhir dengan kehancuran yang dahsyat

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya:”Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu”. (QS. 7:80)

“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. 7:81)

Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan:”Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kota ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”. (QS. 7:82)

“Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” (QS. 7:83)

“Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS. 7:84)

Menumbuhkan dan menjaga taqwa sangatlah penting dalam kehidupan manusia karena manusia akan terbebas dari segala kesulitan, serta mendapatkan kebahagiaan, keselamatan, kedamaian di dunia dan di akhirat.

Membangun iman dan taqwa dapat dilakukan dengan menempuh jalan-jalan yang ditunjukkan oleh Allah agar manusia mendapatkan hadiah ketaqwaan dari Allah sebagaimana firman-Nya

“Hai manusia, sembahlah Tuhan-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa.” (QS. 2:21)

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat gunung (Thursina) di atasmu (seraya kami berfirman):”Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertaqwa”. (QS. 2:63)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. 2:183)

“dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. 6:153)

Orang yang bertaqwa memiliki perasaan yang sangat menguntungkan, sebab di dalam hatinya terdapat kesadaran bahwa segala perintah Allah adalah pendidikan jiwa yang akan meningkatkan kualitas jiwa manusia. Demikian pula larangan Allah adalah sesuatu yang bila diterjang akan merusak kemuliaan jiwa manusia.

Banyak hal-hal yang menguntungkan baik di dunia dan di akherat bagi orang yang selalu menuju kesempurnaan ketaqwaan dan terus menjaga ketaqwaan yang sudah ada dalam dirinya. Baik keuntungan jasmani dan rohani, maupun keuntungan di dunia ataupun di akhirat.

Sebaliknya mereka yang mengabaikan membangun taqwa dan mengabaikan dengan memelihara taqwa, maka sangat rawan dan sangat rentan kepada jalan-jalan tipu daya syaitan, jalan kesulitan, jalan siksaan bahkan sampai jatuh kedalam jalan kehancuran dan kebinasaan. Semoga kita senantiasa menjadi umat muslim yang terus bertaqwa kepada Allah SWT.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat