Munculkan Sikap Tawadlu dari Puasa Ramadhan

Puasa dimaksudkan untuk mendidik umat Islam agar merasakan kehadiran Allah yang selalu mengawasi dan menyertainya setiap saat. Sekalipun kita tengah berada di suatu tempat yang gelap dan tertutup rapat sehingga tidak ada seorangpun yang tahu dan melihat, namun orang yang berpuasa karena Allah tidak akan makan atau minum dengan sengaja sebelum waktu berbuka tiba.

Hadirnya perasaan dalam hati seorang hamba bahwa dirinya selalu diawasi Allah setiap saat menjadikannya bersikap hati-hati dalam beramal dan taat pada aturan yang telah ditetapkan Allah.

Tumbuhnya perasaan diawasi Allah sepanjang pagi hingga petang itu harus terus ada hingga malam hari dan terbit fajar kembali. Bahkan tidak hanya selama bulan Ramadhan, namun juga masuk ke bulan Syawal dan bulan-bulan yang lain sepanjang tahun hingga akhir hayatnya. Sehingga seorang hamba yang yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan akan benar-benar menjadi hamba yang bertaqwa kepada Allah.

Haus dan lapar yang dirasakan sepanjang siang menyadarkan umat Islam akan lemahnya manusia. Dari sinilah kemudian timbul kesadaran akan lemahnya tubuh manusia tanpa makan dan minum. Diharapkan tumbuh rasa syukur kepada Allah, yang telah banyak memberinya rejeki, dan tumbuh pula sikap tawadlu, rendah hati dan tidak sombong kepada sesama makhluk, yang sama-sama memiliki sifat lemah.

Umat Islam tidak layak membanggakan apalagi menyombongkan pangkat dan jabatannya. Saat pangkat dan jabatan itu diambil kembali oleh Allah, dia akan kembali lemah, seperti lemahnya orang yang lapar dan haus saat berpuasa.

Kaya atau miskin, semua orang yang berpuasa akan merasa lemah. Sesungguhnya harta kekayaan hanyalah titipan Allah yang tidak layak untuk dijadikan kebanggaan.

Bulan puasa Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan lautan berkah. Dari sikap tawadlu yang terbentuk pada diri seseorang karena puasa, akan tumbuh perasaan bahwa semua manusia itu adalah sama-sama lemah di hadapan Allah. Maka tidak layak bagi manusia untuk bersikap sombong. Hal ini didefinisikan oleh Rasulullah SAW sebagai batharul-haqq wa ghamtunnaas (menolak kebenaran dan merendahkan orang lain).

Rasulullah bersabda:

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat seberat dzarrah dari kesombongan”. Ada salah seorang shahabat yang bertanya, “(Ya Rasulullah), bagaimana dengan seorang lelaki yang suka memakai baju bagus dan sandalnya bagus ?”. Beliau menjawab, “Allah itu Maha Indah dan suka kepada keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Muslim juz 1, hal. 93]

Kebenaran itu datangnya dari Allah. Mereka yang menolak kebenaran pasti menerima kebathilan. Manusia yang merendahkan sesama manusia, pasti bangga terhadap dirinya sendiri, sombong dan kehilangan sikap tawadlu’.

Rasul bersabda:

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat seberat dzarrah dari kesombongan. [HR. Muslim juz 1, hal. 93].

Oleh karena itu bersyukurlah mereka yang dianugerahi sikap tawadlu karena ibadah puasa Ramadhan. Mereka sadar kekuatan yang dimilikinya hanyalah titipan Allah untuk dimanfaatkan di jalan Allah. Kekayaan yang dimilikinya hanyalah titipan Allah untuk dimanfaatkan di jalan Allah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat