Menjadikan Al-Qur’an Sebagai Wirid

Wirid disini berarti aktivitas yang kita lakukan secara kontinyu dan terjadwal. Sebagian wirid Qur’ani tersebut bisa jadi dilakukan setiap hari, seperti membacanya, mendengarkannya, dan menjadikannya dzikir. Bisa jadi pula beberapa wirid Qur’ani yang lain tidak dilakukan setiap hari, tetapi yang jelas kontinyu dan terjadwal.

Sebagaimana seseorang menjadikan baca koran sebagai ‘wirid’ hariannya, seperti itu pula minimal seseorang menjadikan Al-Qur’an sebagai wirid hariannya. Bahkan, porsi membaca Al-Qur’an semestinya lebih banyak daripada porsi membaca koran.

 

Dan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai wirid dengan berbagai bentuknya yang akan disebutkan, kita harus telah mampu menjadikannya sebagai hamm (kepedulian, perhatian dan kesibukan utama pikiran) kita. Dan salah satu alat ujinya adalah, jika dalam waktu-waktu senggang seperti di kendaraan, di ruang-ruang tunggu, di sela-sela kesibukan, dan semacamnya, yang pertama kali kita ingat untuk mengisinya dan menyibukkan diri dengannya adalah Al-Qur’an (baik dengan membacanya, mendengarkannya, maupun yang lainnya), selain tentu juga dzikir, maka berarti benar ia telah menjadi hamm kita.

Namun jika yang lebih diingat oleh salah seorang dari kita adalah yang lainnya, seperti nasyid misalnya, atau apalagi melamun dan lain-lain semacamnya, maka berarti Al-Qur’an masih belum menjadi hamm-nya, yang berarti juga belum menjadi wirid utamanya!

Berikut beberapa ragam Wirid Al-Qur’an:

  1. Wirid membaca (wirdut-tilawah)
  2. Wirid mendengarkan (wirdul-istima’)
  3. Wirid menghafal (wirdul-hifdz)
  4. Wirid tadabbur (wirdut-tadabbur)
  5. Wirid dzikir Qur’ani (wirdudz-dzikr al-qur’ani)

Tulisan ini merupakan cuplikan dari Ebook “Kiat Dekat dengan Al-Qur’an” yang disusun oleh Ust. Mudzoffar Jufri, MA (Dewan Syari’ah Griya Al-Qur’an). Anda dapat mendownload versi lengkap tulisan ini disini: Ebook Kiat Dekat dengan Al-Qur’an.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat