Menjadi Pribadi yang Penuh Kewibawaan dan Cinta Damai (II)

Seringkali kewibawaan manusia tergoncang dengan berbagai penyimpangan-penyimpangan dan kebodohan yang telah mereka lakukan.

Allah berfirman:

dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. 6:153)

“Katakanlah:”Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan):”Marilah ikuti kami”. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam” (QS. 6:71)

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang mu’minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dan bercerai-berai.” (QS. 9:25)

Saat manusia mulai melakukan hal-hal yang menyimpang dari perintah Allah, disanalah kewibawaan mereka tiada berarti lagi.

Allah memberi kesempatan yang sangat luas kepada umat manusia dalam hidup di dunia untuk melakukan hal positif. Hal ini tak lain adalah untuk selalu melihat tanda-tanda kebesaran, kemuliaan dan keagungan Allah.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. 10:6)

“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (QS. 55:33)

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. 57:25)

Manusia Hidup Agar Bertaqwa pada Allah dengan Melihat Banyak Kebesaran-Nya

Membangun generasi yang cintai damai dan berwibawa dilakukan dengan menelusuri kembali jalan-jalan kebenaran yang datang dari Allah SWT. Manusia perlu meneladani kesederhanaan hidup dari para Nabi-Nabi Allah, termasuk Nabi Muhammad SAW.

Meskipun ilmu dan teknologi mampu membawa manusia untuk menembus langit (mengekplorasi ruang angkasa) dan menembus bumi (mengekplorasi kandungan bumi), namun hidup sederhana adalah jalan terbaik untuk mencapai ketentraman jiwa, dan mewujudkan pribadi yang adil dan bertanggung jawab untuk mencapai kemuliaan di dunia dan di sisi Allah .

Mencintai kesederhanaan hidup menunjukkan kematangan jiwa manusia-manusia yang telah dilimpahi kekayaan jiwa oleh Allah SWT. Nikmat yang paling tinggi yang hanya dapat disyukuri dengan menempuh jalan hidup sederhana dan rajin beribadah kepada-Nya. Dan dari sanalah terletak kekuatan mengagumkan generasi yang cinta damai dan berwibawa.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *