Mengobati Jiwa yang Gersang dan Tandus dengan Puasa (II)

Pernahkah kita meneliti satu demi satu dosa-dosa yang dapat timbul yang disebabkan oleh penyimpangan perbuatan kita? Ketidakmampuan manusia untuk menghindari segala penyimpangan ini merupakan dosa yang dianggap kecil namun membuahkan dosa yang membawa manusia menuju neraka.

Allah berfirman:

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. 7:176)

Kelalaian dan ketidak waspadaan jiwa sering diawali oleh penyimpangan mulut, perut dan kemaluan. Kelalaian dalam beribadah kepada Allah diawali dari jatuhnya kualitas jiwa akibat memperturutkan kesenangan mulut dan kemaluan. Sehingga berkembang menjadi kelalaian-kelalaian yang berskala besar dengan dosa yang besar-besar dengan skala yang sangat luas.

Rasul bersabda:

Bagaimana kamu apabila dilanda lima perkara? Kalau aku (Rasulullah SAW), aku berlindung kepada Allah agar tidak menimpa kamu atau kamu mengalaminya. (1) Jika perbuatan mesum dalam suatu kaum sudah dilakukan terang-terangan maka akan timbul wabah dan penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu. (2) Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat maka Allah akan menghentikan turunnya hujan. Kalau bukan karena binatang-binatang ternak tentu hujan tidak akan diturunkan sama sekali. (3) Jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan maka Allah akan menimpakan paceklik beberapa waktu, kesulitan pangan dan kezaliman penguasa. (4) Jika penguasa-penguasa mereka melaksanakan hukum yang bukan dari Allah maka Allah akan menguasakan musuh-musuh mereka untuk memerintah dan merampas harta kekayaan mereka. (5) Jika mereka menyia-nyiakan Kitabullah dan sunah Nabi maka Allah menjadikan permusuhan di antara mereka. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Puasa sebagai latihan bagi jiwa manusia untuk menahan penyimpangan mulut dan kemaluan. Sesuatu yang halal namun ditata kembali untuk digunakan pada jalan-jalan yang diridhoi oleh Allah. Baik dalam menata ucapan dan kata-kata, menata masuknya makanan, menata segala sesuatu yang berkenaan dengan mulut. Demikian pula pada masalah kemaluan.

Jiwa yang telah rusak, hancur, gersang, dan jatuh dalam kerendahan, dapat dihidupkan kembali dan ditata kembali dengan cara yang mudah dan ajaib, yaitu dengan menjalani ibadah puasa dengan sebaik-baiknya. Namun manusia harus sepenuhnya melakukan bimbingan Allah tersebut. Bila bulan-bulan puasa tidak dilakukan dengan sebaik-baiknya, maka keajaiban ibadah puasa tidak akan membuahkan apa-apa kecuali sekedar lapar dan haus.

Rasul bersabda:

“Barangsiapa tidak dapat meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa) maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya.” (HR. Bukhari)

Sungguh Maha Besar Allah yang terus melimpahkan kasih sayangnya pada manusia. Ibadah puasa yang kelihatannya sederhana namun dapat mengangkat kemuliaan jiwa manusia. Jiwa yang gersang dapat tumbuh kembali dengan kerimbunan iman. Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan tuntunan-tuntunan yang mengarahkan manusia menuju derajat yang tinggi dan mulia.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *