Memuliakan Orang yang Bertamu

Islam mengajarkan untuk memuliakan tamu karena tamu memiliki kedudukan yang mulia lagi utama. Orang yang bertamu dipandang sebagai orang yang mengikuti kebiasaan para nabi serta orang-orang shalih, dan penyambung ikatan silaturahmi.

Karena kedudukannya yang mulia lagi utama, ajaran Islam memerintahkan umatnya untuk memuliakan tamu. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Memuliakan tamu merupakan bagian dari syariat Islam. Orang yang memuliakan tamu menjadi pertanda akan komitmennya terhadap syariat Islam, mengikuti akhlak nabi dan mempraktekkan tata krama orang-orang yang mulia.

Oleh karena itu, ketika kita mempraktikkan syariat memuliakan tamu ini maka kita akan mendapatkan keutamaan dan hikmah yang besar. Pertama, mendapatkan pahala, yakni rahmat dan ampunan Allah SWT.

Kedua, akan mendekatkan persahabatan dan silaturahim antarsesama Muslim. Sebab, salah satu tujuan dari memuliakan tamu adalah mendekatkan hati dan saling membahagiakan antara tuan rumah dan tamu, serta menumbuhkan saling menghargai di antara anggota masyarakat.

Memuliakan tamu dapat diwujudkan dengan menyambut kedatangan tamu dengan penuh keimanan, keikhlasan, dan kebahagiaan, yang direalisasikan dengan air muka yang jernih dan menyenangkan selama ia berada di tempat kita dan membicarakan yang baik-baik dengannya.

Selain itu, mendudukkan (menempatkannya) di tempat yang baik, melayaninya, dan menyiapkan makan-minum serta keperluannya juga termasuk dalam memuliakan tamu. Ulama terkemuka Imam Ghazali berkata, “Setiap kali seseorang menemuimu, maka sediakanlah keperluannya dan siapkan diri untuk menjamunya. Namun, jika kamu menemui seseorang, janganlah merepotkan tuan rumah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *