Melaksanakan Puasa Syawal

Ramadhan telah usai, meninggalkan segenap amalan kepada Allah SWT dan sesama manusia. Memasuki bulan syawal ini ada amalan sunnah puasa Syawal yang hanya ada dan berlaku di bulan ini. Jika dilewatkan, kita harus menunggu setahun lagi, jika Allah masih memberikan kesempatan. Oleh karena itu kita perlu memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya.  Jika kita sehat dan tidak ada udzur puasa maka sayang sekali jika meninggalkan amalan yang satu ini.

Keutamaan Puasa Syawal

Rasulullah bersabda:

“Dari Abu Ayyub Al-Anshariy, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa puasa Ramadlan lalu ia iringi dengan puasa enam hari dari Syawwal, adalah (pahalanya) itu seperti puasa setahun”. [HSR. Muslim juz 2, hal. 822]

“Dari Tsauban bekas budak Rasulullah SAW dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa puasa enam hari sesudah Hari Raya ‘Iedul Fithri, adalah (serupa) sempurna setahun, (karena) barangsiapa mengerjakan kebaikan, maka ia mendapat pahala sepuluh kali ganda”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 547]

“Dari Tsauban bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Puasa sebulan (Ramadlan) pahalanya sama dengan sepuluh bulan, dan enam hari sesudahnya pahalanya sama dengan dua bulan. Maka yang demikian itu (pahalanya) sama dengan puasa setahun penuh. Yakni bulan Ramadlan dan enam hari sesudahnya (Syawwal).” [HR. Darimiy juz 2 hal. 21]

Rasulullah menggembirakan ummatnya agar suka berpuasa enam hari di bulan Syawwal, dengan menyatakan bahwa orang yang berpuasa satu bulan dibulan Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka pahalanya semisal dengan puasa setahun.

Hal ini maksudnya adalah puasa Ramadhan (yang biasanya 30 hari) pahalanya senilai berpuasa 300 hari, karena tiap-tiap satu hari mendapat pahala 10 kali lipat. Dan 6 hari di bulan Syawwal senilai dengan puasa 60 hari, sehingga semuanya berjumlah 360 hari atau sama dengan 1 tahun.

Adapun enam hari dalam bulan Syawwal itu tidak mesti harus berturut-turut yang dimulai dari tanggal 2 (tepat sehabis hari raya) sebagaimana yang biasa dikerjakan oleh ummat Islam pada umumnya. Karena tidak ada penjelasan yang tegas dari agama atau keterangan yang sharih (terang) dan shahih (kuat) dari agama. Dan kita tidak boleh membuat ketentuan sendiri dalam masalah ibadah.

Ketentuan Puasa Syawal

Jadi, puasa Syawal boleh dan tetap dipandang sempurna oleh syara’ bila kita mengerjakan berselang-seling maupun berturut-turut yang tidak dimulai tanggal 2 Syawwal (tepat sehabis hari raya). Yang penting masih dalam bulan Syawwal. Kalaupun hendak mengerjakan tepat sehabis hari raya dengan berturut-turut pun tidak mengapa, asal tidak dengan keyakinan bahwa itulah cara yang paling sah yang dituntunkan oleh syara’.

Hadits riwayat Muslim yang dijadikan dalil puasa Syawwal tersebut ada sebagian ulama yang menganggap lemah, karena di dalam sanadnya ada rawi Sa’ad bin Sa’id bin Qais yang dicela oleh sebagian ulama ahli hadits.

Namun sebagian ulama ahli hadits yang lain berpendapat bahwa celanya Sa’ad bin Sa’id bin Qais tersebut tidak sampai menyebabkan hadits itu menjadi dlaif (lemah). Terlebih, hadits riwayat Muslim itu dikuatkan oleh dua hadits berikutnya yang diriwayatkan Ibnu Majah dan Darimiy dimana dalam sanadnya tidak terdapat rawi Sa’ad bin Sa’id bin Qais yang dipermasalahkan tersebut. Jadi hadits tersebut tetap bisa dipakai sebagai dalil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *