Lupa VS Melupakan Al Quran

Oleh : Ade Nurdiyanto (Pengajar Tahfidz di Griya Quran, lulusan Kairo-Mesir)

quranDari pembicaraan kami dengan rekan-rekan yang sedang mempelajari al-Qur’an akhir-akhir ini, kebanyakan dari mereka cenderung enggan untuk melanjutkan ke level selanjutnya,  yaitu level tahfid. Hal ini didasari dengan alasan takut tidak bisa menjaga hafalan, sehingga dapat disimpulkan bahwa mereka takut lupa tentang ayat-ayat al-Qur’an yang telah dihafal.

Alasan ini sebenarnya sebuah alasan yang telah lama kami dengar, bahkan semenjak memulai menghafal dulu. Sebuah alasan klasik tetapi dapat membuat beberapa orang mengurungkan niat untuk menghafal al-Qur’an. Dan sayangnya, efek dari paradigma tersebut menyebabkan para penghafal al-Qur’an menjadi berkurang jumlahnya.

Paradigma di atas menurut penulis terbentuk dari pemahaman beberapa hadis yang menerangkan bahwa orang yang melupakan ayat al-Qur’an yang telah dihafal, kelak di hari kiamat akan mendapatkan siksa. Contoh dari berberapa hadis tersebut seperti sebuah hadis yang penulis kutip dari sunan Abu Dawud yang redaksidnya adalah:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، أَخْبَرَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي زِيَادٍ، عَنْ عِيسَى بْنِ فَائِدٍ، عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا مِنَ امْرِئٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، ثُمَّ يَنْسَاهُ، إِلَّا لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَجْذَمَ

‘Telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Muhammad ibn al-‘Ala’ dari Ibn Idris dari Yazid ibn Abi Yazid dari ‘Isa ibn Faid dari Sa’ad ibn ‘Ubadah berkata: Rasullah SAW bersabda: barang siapa membaca (menghafal) al-Qur’an kemudian melupakannya, maka ia akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat dalam keadaan terserang penyakit kusta’.[1]

Ada pula sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Turmudhi yang redaksinya penulis ambil dari jalan Turmudhi:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الوَهَّابِ بْنُ الحَكَمِ الوَرَّاقُ البَغْدَادِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ المَجِيدِ بْنُ عَبْدِ العَزِيزِ، عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ المُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَنْطَبٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عُرِضَتْ عَلَيَّ أُجُورُ أُمَّتِي حَتَّى القَذَاةُ يُخْرِجُهَا الرَّجُلُ مِنَ المَسْجِدِ، وَعُرِضَتْ عَلَيَّ ذُنُوبُ أُمَّتِي، فَلَمْ أَرَ ذَنْبًا أَعْظَمَ مِنْ سُورَةٍ مِنَ القُرْآنِ أَوْ آيَةٍ أُوتِيهَا رَجُلٌ ثُمَّ نَسِيَهَا

‘Imam Turmudhi telah meriwayatkan dari ‘Abdul Wahhab ibn al-Hakam al-Warraq al-Bagdadi dari ‘Abdul Majid ibn ‘Abdul ‘Aziz dari Ibn Juraij dari al-Mutallib ibn ‘Abdullah ibn Hanthab dari Anas ibn Malik berkata: Rasulullah SAW bersabda: telah diperlihatkan kepadaku semua pahala umatku, hingga pahala orang yang membuang kotoran dari masjid. Dan diperlihatkan pula dosa-dosa umatku, maka aku tidak melihat dosa yang paling besar melebihi sebuah surat dari Al-Qur’an atau ayat Al-Qur’an yang diberikan kepada seseorang lalu dilupakannya’.

Dari dua hadis di atas terdapat keterangan bahwa orang yang melupakan ayat al-Qur’an akan mendapatkan siksa berupa terkena penyakit kusta (menurut hadis pertama) dan dianggap melakukan dosa yang paling besar (menurut hadis ke dua). Sehingga dari sini menjadi jelas bahwa orang-orang yang mengabaikan al-Qur’an dengan tidak menjaganya dan melupakannya sangat dibenci oleh agama.

Namun demikian, kita sebagai manusia tidak bisa lepas dari beberapa sifat dasar manusia yang salah satunya adalah sifat lupa, bahkan kita sering mendengar sebuah wacana bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Nabi Muhammad pun juga mengalami hal tersebut. Meskipun seorang utusan Allah, tetapi beliau juga tidak lepas dari sifat lupa. Sejarah mencatat bahwa beliau juga pernah mengalami lupa akan beberapa ayat al-Qur’an. Hal ini dapat kita lihat dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim yang redaksi hadisnya penulis ambil dari Bukhari:

  حَدَّثَنَا رَبِيعُ بْنُ يَحْيَى، حَدَّثَنَا زَائِدَةُ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَقْرَأُ فِي المَسْجِدِ، فَقَالَ: «يَرْحَمُهُ اللَّهُ لَقَدْ أَذْكَرَنِي كَذَا وَكَذَا، آيَةً مِنْ سُورَةِ كَذَا» حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدِ بْنِ مَيْمُونٍ، حَدَّثَنَا عِيسَى، عَنْ هِشَامٍ، وَقَالَ: أَسْقَطْتُهُنَّ مِنْ سُورَةِ كَذَا

‘Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Rabi’ ibn Yahya dari Zaidah dari Hisyam dari ‘Urwah dari Aisya r.a berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar seseorang yang membaca al-Qur`an di masjid, lalu beliau bersabda:“semoga Allah merahmatinya. Sungguh ia telah mengingatkanku ini dan ini, yaitu ayat dari surat ini.” Dan dalam riwayat lain dari jalur Muhammad ibn ‘Ubaid ibn Maymun dan ‘Isa dari Hisyam dengan lafad: “Aku menjatuhkannya dari surat ini’.

Dari pemaparan di atas dapat diklasifikasikan bahwa ada dua golongan yang hadis ‘kelihatannya’ bertentangan. Hadis golongan pertama adalah larangan dari Rasulullah untuk melupakan ayat al-Qur’an, sedangkan hadis golongan kedua adalah hadis yang menerangkan bahwa Rasulullah sendiri ternyata pernah lupa akan ayat-ayat al-Qur’an.

Derajat dua hadis

Menilik ke dalam derajat hadis golongan pertama, hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dihukumi dengan hadis dhoif (lemah) karena dalam rawinya terdapat satu orang yang dihukumi lemah, yaitu Ibn Idris dan terdapat dua orang yang dihukumi majhul (tidak diketahui),  yaitu Yazid ibn Abi Yazid dan ‘Isa ibn Faid. Sedangkan hadis yang kedua, hadis riwayat Turmudhi, penulis kutip dari pendapat al-Albani, hadis tersebut merupakan hadis dhoif karena dua rawinya mudallis, mereka adalah Ibn Juraij dan al-Mutallib ibn ‘Abdullah.

Adapun golongan hadis yang kedua, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhari adalah hadis shahih karena semua rawi dalam hadis tersebut terbebas dari cacat-cacat yang menyebabkan ditolaknya sebuah hadis. Hadis ini pun diriwayatkan pula oleh imam Muslim yang notabene imam Bukhari dan Muslim memiliki derajat yang lebih tinggi dalam urutan kitab hadis dari Abu Dawud dan Turmudhi.

Penjelasan hadis

Namun demikian, terlepas dari lemahnya derajat hadis golongan pertama yang menerangkan tentang orang yang melupakan ayat al-Qur’an akan mendapatkan siksa, sebenarnya apabila kita teliti lebih dalam maka akan kita dapati bahwa dua golongan hadis tersebut tidaklah bertentangan. Hal ini dapat kita rujuk ke dalam redaksi dari masing-masing hadis.

Hadis golongan pertama memakai kata yansa (dengan bentuk kata kerja sekarang atau yang akan datang) dan nasiya (dengan bentuk kata kerja lampau) yang keduanya memiliki arti melupakan. Menurut penulis, lupa dalam kalimat ini terjadi karena kesengajaan dari orang yang memiliki hafalan tersebut.

Adapun hadis golongan kedua menerangkan Nabi Muhammad SAW mendengar orang yang membaca al-Qur’an di masjid yang kemudian ayat-ayat tersebut ternyata mengingatkan Nabi atas ayat-ayat yang beliau telah lupa. Untuk menerangkan hadis ini, penulis mendapatkan hadis yang memiliki kesamaan bahasan dalam kitab Sahih Bukhari yang dapat menerangkan hadis ini, redaksi dari hadis tersebut adalah:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ ابْنُ أَبِي رَجَاءٍ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَقْرَأُ فِي سُورَةٍ بِاللَّيْلِ، فَقَالَ: «يَرْحَمُهُ اللَّهُ لَقَدْ أَذْكَرَنِي كَذَا وَكَذَا، آيَةً كُنْتُ أُنْسِيتُهَا مِنْ سُورَةِ كَذَا وَكَذَا

‘Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Ahmad ibn Abi Raja dari Abu Usamah dari Hisyam dari ‘Urwah dari bapaknya ‘Urwah dari ‘Aisyah berkata: Rasulullah mendengar seorang laki-laki yang membaca sebuah surat pada waktu sholat malam, kemudian Rasulullah berkata: semoga Allah merahmatinya. Sungguh ia telah mengingatkanku ini dan ini, yaitu ayat yang aku lupa dari surat ini dan ini’.

Apabila dalam hadis ini digunakan kata unsituha yang berarti telah dilupakan padaku dengannya, sedangkan di dalam hadis yang sebelumnya digunakan asqottuha yang berarti telah aku jatuhkan ia (aku lupakan), maka imam Ibnu Hajar selaku orang yang menerangkan kitab shohih Bukhari, dalam kitab ‘Fath al-Bari’-nya menjelaskan bahwa kata unsituha merupakan keterangan dari kata asqottuha. Sehingga menurut Ibnu Hajar terjadinya ‘lupa’ Rasulullah akan ayat al-Qur’an merupakan buah dari ketikdaksengajaan, bukannya timbul dari sebuah kesengajaan.

Menurut Ibn Hajar, mengutip dari al-Isma’iliy, lupa Rasulullah tentang ayat al-Qur’an dapat dibagi ke dalam dua keadaan. Keadaan yang pertama merupakan lupa akan hal-hal yang ia ingat sesaat sebelumnya, sedangkan yang kedua merupakan lupa akibat dihapusnya ayat al-Qur’an dari hatinya akibat hukum naskh. Keadaan yang pertama terjadi akibat tabiat manusia, yaitu sifat lupa. Hal ini dikuatkan dengan hadis yang diriwayatkan dari Ibn Mas’ud dalam sujud sahwi bahwasannya Rasulullah berkata: ‘sesungguhnya aku manusia seperti kalian, aku lupa seperti kalian juga lupa’. Dan yang perlu ditekankan adalah, bahwa keadaan yang pertama ini cepat hilangnya, atau dalam kata lain Rasulullah akan cepat mengingat kembali ayat-ayat yang telah ia lupa.

Sehingga dari pemaparan di atas, menjadi jelaslah bahwa sebenarnya terdapat kolerasi antara dua golongan hadis tersebut. Yaitu, apabila lupa akan ayat al-Qur’an muncul dari sebuah kesengajaan, maka akan mendapatkan siksa (menurut hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Sa’ad ibn ‘Ubadah). Namun apabila lupanya terjadi akibat dari ketidaksengajaan, maka kita sebagai manusia selayaknya tidak takut untuk menghafal al-Qur’an karena memang tabiatnya menjadi tempat salah dan lupa.

Pada akhirnya, Rasulullah sebagai pembimbing terbesar bagi umat Islam tidaklah serta merta meninggalkan umatnya dalam keadaan bingung tentang bagaimana menyikapi sifat lupa yang merupakan tabiat sifat aslinya. Sebagai solusi dari permasalahan ini, Rasulullah kemudian mengajarkan umatnya untuk selalu mengulang-ulang hafalannya. Hal ini dapat kita lihat dalam sabda beliau pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Muslim:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ بَرَّادٍ الْأَشْعَرِيُّ، وَأَبُو كُرَيْبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ بُرَيْدٍ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «تَعَاهَدُوا هَذَا الْقُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا»

‘Telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Abdullah ibn Barrad al-Ash’ari dan Abu Kurayb dari Abu Usamah dari Burayd dari Abi Burdah dari Abi Musa dari Rasulullah SAW, bersabda: ‘ta’ahadu hadha al-Qur’an[2], demi Allah bahwasannya ia lebih cepat hilangnya daripada lepasnya seekor unta dari tali ikatnya’.

Maka dari pemaparan singkat ini, hendaknya seorang muslim tidaklah ragu untuk bersegera mengikuti barisan para penghafal al-Qur’an. Janganlah takut akan lupa ayat-ayatnya, apabila seorang muslim mau mengulang-ulang hafalannya, maka niscaya Allah akan memberikan cahaya al-Qur’an padanya beserta dipermudah menjaga hafalannya hingga mencapai khayrukum man ta’allama al-Qur’an wa ‘allamahu.

Referensi:

[1]dalam kutub al-sittah hadis ini hanya diriwayatkan oleh Abu Dawud saja.

[2] Kata ta’ahadu hadha al-Qur’an berarti perbaharuilah ia dengan selalu membacanya supaya tidak lupa. Lihat: Shohih Muslim, tahqiq: Muhammad Fu’ad abd al-Baqi’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *