Hukum Membaca Al Qur’an Latin

www.griyaquran.org- Di Indonesia, Al Qur’an dengan tulisan Arab-Latin mudah ditemui. Al Qur’an semacam ini sangat memudahkan untuk orang-orang yang belum bisa membaca Al Qur’an dan mengenal huruf hijaiyyah. Namun, ulama berbeda pendapat mengenai hukum membacanya.

Mushaf Al Qur’antransliterasi Arab-Latin memiliki varian yang beragam. Ada mushaf dan transliterasi, mushaf terjemah dan transliterasi, mushaf per kata dan transliterasi, mushaf tajwid dan transliterasi, dan beberapa varian lainnya. Kebutuhan masyarakat akan mushaf tersebut pun, diungkapkan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kemenag RI terus meningkat. Lalu, bagaimana sebenarnya hukum membaca Al Qur’andengan transliterasi?

Sebelumnya, Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ


Sesungguhnya kami turunkan Al Qur’anitu berbahasa Arab agar kalian berfikir.” (QS. Yusuf: 2)


كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Itulah kitab yang dirinci ayat-ayatnya, Al Qur’anyang berbahasa Arab, bagi orang yang mengetahui.” (QS. Fushilat: 3)
Jumhur ulama bersepakat bahwa penggunaan transliterasi untuk membaca Al Qur’antidak diperbolehkan. Namun, tidak semuanya sepakat dengan pendapat tersebut. Imam ar-Ramli as-Shagir dalam fatwanya mengatakan bahwa menggunakan transliterasi dalam membaca Al Qur’an diperbolehkan.

Dari sini bisa dibuat batasan dan jalan tengah—dan ini yang dilakukan LPMQ terkait dengan Al Qur’antransliterasi—bahwa penggunaan transliterasi diperbolehkan hanya untuk orang-orang yang memang belum bisa membaca Al-Qur‘an, dan penggunaannya dalam hal karena faktor darurat.

Melalui transliterasi, masyarakat yang menggunakannya diharapkan terdorong mempelajari Al Qur’anmenggunakan huruf Arab. Sehingga penerbitan Al-Quran transliterasi yang diajukan penerbit harus menyertakan teks Arab agar transliterasi betul-betul digunakan sebagai alat bantu bagi masyarakat yang memang belum bisa membaca Al Qur’andengan huruf Arab.

Kemungkinan Salah Baca

Menurut penelitian Problematika Transliterasi Aksara Arab-Latin dalam jurnal Nusa Vol. 12. No. 1 Februari 2017, setidaknya pembakuan pedoman transliterasi Arab-Latin disusun dengan prinsip (1)  Sejalan dengan Ejaan yang Disempurnakan (2) Huruf Arab yang belum ada padanannya  dalam huruf Latin dicarikan padanan dengan cara memberi tambahan tanda diakritik, dengan dasar “satu fonem satu lambang”, (3) Pedoman transliterasi ini diperuntukkan bagi masyarakat umum.

Sedangkan hal-hal yang dirumuskan secara konkret dalam pedoman transliterasi Arab-Latin ini yang meliputi: Konsonan, Vokal (tunggal dan rangkap), Maddah, Ta’marbutah, Syaddah, Kata sandang (di depan huruf syamsiah dan qamariah), Hamzah, Penulisan kata, Huruf Kapital, dan Tajwid, tetap tidak mendekati dengan bunyi aslinya.

Pelafalan bahasa Arab dengan teks latin bisa sangat berbeda. Oleh karena itu, membaca Al Qur’anterus menerus dengan transliterasi tidak berarti membaca Al Qur’ankarena tidak membaca bahasa Arab, melainkan bahasa ‘Ajam, seperti yang diungkapkan Nawawi.

Tidak boleh membaca al-Quran dengan bahasa ‘ajam (selain bahasa arab). Baik dia bisa bahasa arab atau tidak. Baik dibaca ketika shalat maupun membacanya di luar shalat. Dan jika membaca al-Quran dengan cara semacam ini di dalam shalat maka shalatnya tidak sah. Ini merupakan pendapat madzhab kami (Syafiiyah), mazhab Imam Malik, Imam Ahmad, Daud, dan Abu Bakr bin al-Mundzir.” (at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Quran, hlm. 96).

Maka sebagai muslim, sebaiknya kita sesegera mungkin belajar membaca Al-Qur‘an, tanpa perlu malu jika harus mengawalinya dengan Iqra’, atau bahkan belajar huruf hijaiyah. Seperti kata pepatah, “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.”

Imam Mujahid juga mengatakan, “Hanya orang pemalu dan orang yang sombong yang tidak mau belajar ilmu agama.” (HR. Bukhari, 1/38). (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat