Bisakah Balitaku Khatam Quran???

oleh Dr. Sarmini, Lc, MA

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya.” Ya, 3 hal yang harus diajarkan pada anak: cinta Rasul, cinta ahlul bait (keluarga Rasul), cinta Quran dengan artian ajarkan anak baca Quran untuk bisa mencintai Quran. Ingat! niatnya bukan ingin anak bisa cepat membaca karena keren-kerenan, tapi karena Allah. Karena ingin membiasakan pada anak dan ingin mendapat pahala dari-Nya. Kalau anak terbata-bata membaca Quran, janganlah bunda sedih. Tapi justru harus senang karena dia sudah dapat pahala orang yang terbata-bata membaca Quran, yakni 2 pahala membaca dan belajar. Seperti ember yang diisi air terus sampai luber, kalau anak terus-menerus diisi Quran, sering murajaah Quran, nanti dia sambil main atau bahkan sambil tidur pun mengigaunya murajaah Qur’an ^-^. Kita harus menjaga fitrah anak. Fitrah itu pasti ketemu atau matching dengan Quran, pasti cinta Quran. Kalau belum, mungkin belum menemukan metodenya saja.

 Beberapa prinsip dalam keluarga Bu Sarmini:

  • Al Quran itu isu utama

Misalnya, kalau mau pergi dan belum membaca Quran, bahaslah terlebih dahulu dengan anak, nanti mau membacanya di mana? kapan? Terus kalau ada yang mengirim makanan atau hadiah misalnya, dikaitkan dengan interaksi mereka dengan Quran, misalnya “Alhamdulillah tadi sudah pada baca Quran ya, jadi Allah senang, terus mengirim hadiah.”

  • Mengutamakan kesuksesan dalam Quran dan menghargainya lebih dari prestasi lainnya

Jadi bukan nilai-nilai sekolah yang diutamakan, tapi lebih ke interaksi dengan Qurannya. Kalau anak nilai Matematikanya jelek, biasanya orang tua kalang kabut, lalu langsung mencarikan tempat les. Tapi bagaimana kalau tidak bisa membaca Quran? Biasa aja, santai aja. Itu karena menganggap Quran sebagai “ekskul”, tambahan, bukan yang utama.

 Prinsip pembelajaran

  1. Mulai dari yang paling mudah. Urutan huruf hijaiyah a-ba-ta..dst tidak cocok untuk balita dan lansia. Karena dari awal saja sudah ada huruf yang mirip, ba ta tsa itu susah dibedakan, ada yang titiknya satu di bawah, titik dua atau tiga di atas. Jadi urutan mengajar huruf tidak harus urut begitu. Mulai dari yang termudah bagi anak.
  2. Dimulai dari yang sekiranya anak mampu. Huruf tsa dan seterusnya (sebanyak 14 huruf) itu tidak ada dalam huruf bahasa Indonesia, jadi lebih susah dilafalkan. 14 huruf itu setengah huruf hijaiyah, jadi jangan fokus ke yang susah dulu
  3. Yang susah dipermudah. Sebenarnya, balita tidak tau susah mudah, orang tuanya saja yang memberi tahu ini susah itu mudah. Ketika dikondisikan, beban tidak akan terasa. Menyuruh anak untuk mengulang mengucap huruf sampai 3 kali itu sudah maksimal, lebih dari itu dia bisa bosan. Setelah itu harus diapresiasi. Hargai prosesnya. Pahala pun udah dicatat. Masalahnya bukan bisa/tidak, tapi LATIHAN lagi. Quran itu kaitannya dengan bahasa, dan bukan soal pintar/tidak, tapi soal JAM TERBANG. Jangan pernah marahi anak dalam belajar.
  4. Nilai dan hargai proses. Jangan lihat hasilnya. Urusan kita usaha, hasil urusan Allah.

Mendekatkan anak pada Quran dan membuat anak senang Quran itu “kontrak kerja” kita dengan Allah. Sabar saja, kan sudah ada pahalanya. Sabar tunggu waktu yang terbaik menurut Allah kapan anak akan bisa. Misal, sebenarnya Allah menetapkan anak ini akan bisa dalam 5 hari. Tapi, pada hari ketiga yang ngajarin sudah tidak sabaran dan marah-marah. Nanti anak malah jadi malas belajar.

Ini sebuah catatan penting tentang hasil dan usaha. Ingat kisah Maryam yang setelah melahirkan Isa, disuruh sama Allah untuk menggoyangkan pohon kurma. Kurma itu jatuh bukan karena usahanya Maryam yang pastinya sangat lemas pasca melahirkan. Tapi karena Allah menghendaki.

Yang lebih jelas lagi kisahnya Siti Hajar dan air zamzam. Sudah capek-capek lari bolak balik Safa-Marwah, tahunya air yang dicari keluar dari mana? Dari bawah kaki Ismail. Tahu begitu kan mending gali tanah di situ saja ^-^. Jadi tidak ada hubungannya usaha dan hasil yang didapatnya.

Tugas kita adalah berusaha, karena kita diperintahkan untuk berusaha, untuk belajar, untuk bekerja. Soal hasil, itu urusan Allah. Soal percaya hasil dari Allah ini terkait sama aqidah juga.

Ingin anak bisa baca Quran itu karena dia Muslim/ah, bukan karena dia anak kita. Kalau sudah diajarin Quran tapi anaknya tidak mau-mau, berhenti dulu dan jangan dipaksa. Tapi kalau kejadian kayak gini, Bu Sarmini bilang ke anaknya, “nanti kalau ditanya Allah, Ummi bisa bilang, Ummi sudah mengajari kakak, tapi kakaknya yang tidak mau baca/belajar”. Nah si kakaknya malas belajar sebentar, tapi beberapa saat kemudian datang lagi dan bilang, “iya deh aku mau belajar”. Terus, anak harus tau kenapa dia harus belajar baca Quran (contoh: karena di surga ada tingkatan-tingkatannya sesuai banyaknya bacaan Quran).

Minimal setiap hari bersama Quran, Bisa ditargetin dia baca misalnya 5 halaman/hari. Tapi mungkin ada kondisi dia sakit, tidak enak badan, capek, kesel, dll. Pada kondisi itu tidak apa-apa kalau misalnya baca 1 halaman aja atau bahkan 1 ayat. Sebaliknya, kalau lagi seneng, bisa baca 10 halaman, why not?

Jangan sampai anak kapok belajar Quran yang nantinya akan berpengaruh sampai dia besar dan jadi orang tua. Karena, kalau dia sejak kecil sudah kapok belajar Quran, saat jadi orang tua nanti dia bisa mempunyai persepsi yang salah karena trauma masa kecilnya, misalnya dia jadi tidak mengajari anaknya Quran sejak dini.

balitaku-khatam-al-qur-an-500x500Kiat-kiat mencapai cita-cita besar itu: azzam yang kuat, konsisten dan istiqomah. Suami istri harus bersepakat, mempunyai cita-cita yang sama. Semua ajaran dan pengalaman mengajarkan anak dekat dengan Quran telah ditulis dalam buku “Alhamdulillah, Balitaku Khatam Al-Quran” .

Demikian semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam bi showab.

Ustadzah DR. Hj. Sarmini, MA (Alumnus International University of Africa) yang sehari-hari beraktifitas sebagai Dosen LIPIA Jakarta dan Penulis Buku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat