Bersyukur Atas Segala Karunia Allah SWT

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat baik jasmani dan rohani terhadap seluruh ciptaan-Nya. Untuk itu, perlulah kita sebagai manusia mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah. Nikmat secara rohani yaitu dengan bertaqwa kepada-Nya.  Nikmat taqwa adalah nikmat rohani yang Allah berikan kepada manusia.

Allah berfirman:

“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Q S. 49 Al-Hujurat ayat 17-18)

Nikmat jasmani dapat dirasakan oleh semua orang. Nikmat jasmani misalnya saja berupa kenikmatan materi. Namun untuk dapat mensyukuri nikmat rohani, perlulah menjalani hidup di dunia ini seperti halnya ketika manusia mengamalkan amal-amal yang telah dituntunkan.

Perlunya meningkatkan kealiman

Allah SWT menetapkan bahwa yang bisa memiliki rasa takut kepada Allah hanyalah orang alim. Sarana untuk mendapatkan taqwa dan kealiman ini adalah dengan berpuasa. Puasa yang benar akan menumbuhkan kecintaan untuk tadarus dan tadabur Al Quran.

Allah berfirman:

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun.” ( Q S. 35 Fathir ayat 28)

Orang berpuasa tanpa mencintai Tadarus dan Tadabur Al Quran tidak akan menambah kealimannya, dan tidak akan membuahkan ketaqwaan yang maksimal. Bahkan Nabi Daud pun dengan puasanya maka setiap malam selalu membaca kitab Zabur. Taqwa dan kealiman dapat terus dipelihara dengan melestarikan amalan-amalan, misalnya saja di bulan puasa.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”(QS. 35 Fathir ayat 29 dan 30)

Mengingat besarnya nikmat iman

Allah SWT memberitahukan tentang besarnya nikmat iman dan taqwa. Nikmat tersebut dapat menjadikan manusia istiqomah dalam jalan iman dan amal sholih. Nikmat tersebut juga akan membawa kepada keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (QS. 3 Ali imran ayat 91).

Nikmat iman akan membuat manusia hidup dalam jalan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah, dan selalu beramal shalih yang akan menjadi bekal kebahagiaan di akhirat. Sebaliknya, orang yang tidak punya iman, akan mengisi hidup denga cara memperturutkan nafsu jahatnya dan jauh dari ikhlas beribadah kepada Allah. Sehingga ketika di akhirat harus menerima balasan atas kejahatannya.

Mengetahui bahwa Kekafiran adalah sesuatu yang dibenci Allah SWT

Manusia perlu menyadari bahwa iman dan taqwa yang diajarkan dalam Islam adalah kebutuhan mendasar bagi keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Manusia harus selalu berpegang teguh dengan apa saja yang menjadikan iman dan taqwa itu terjaga dalam hatinya. Allah sangat membenci kepada orang-orang kafir di dunia dan di akhirat.

Allah berfirman:

“Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada) mu.” (QS. 39 Az-Zumar ayat 7)

Ketika manusia diberi iman dan taqwa kemudian tidak dipelihara, maka itu semua tidak merugikan Allah SWT, tapi akan merugikan manusia yang tidak memelihara iman dan taqwa pemberian Allah tersebut. Dan jika manusia memelihara iman dan taqwa pemberian Allah, maka keuntungan akan ada dalam diri manusia, dan Allah Maha Mensyukuri kepada manusia manusia yang serius memelihara iman dan taqwa pemberian Allah tersebut.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat): “Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman lalu kamu kafir.” (QS. 40 Mukmin ayat 10)

“Mereka menjawab: “Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan (nya) dan kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar”. Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS. 67 Al Mulk ayat 9 dan 10)

Orang-orang kafir menyesal di akhirat, namun penyesalan tersebut adalah penyesalan yang sia-sia. Di akhirat bukan lagi waktunya memohon ampun. Akhirat menjadi tempat untuk menerima balasan yang setimpal. Mengapa mereka sampai mati tetap saja kafir dan tidak mau beriman kepada Allah seperti yang Allah tuntunkan di dalam Al Quran dan As-Sunnah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *