Berlaku Jujur Dimanapun dan Kapanpun

Rasulullah SAW bersabda:

“Hendaklah kamu sekalian berbuat jujur. Sebab kejujuran membimbing kearah kebajikan. Dan kebajikan membimbing kearah syurga. Tiada henti-hentinya seseorang berbuat jujur dan bersungguh-sungguh dalam melakukan kejujuran sehingga dia ditulis disisi Allah sebagai orang jujur. Dan hindarilah perbuatan dusta. Sebab dusta membimbing kearah kejelekan. Dan kejelekan membimbing kearah neraka. Tiada henti-hentinya seseorang berbuat dusta dan bersungguh-sungguh dalam melakukan dusta sehingga dia ditulis disisi Allah sebagai pendusta” (HR. Bukhari Muslim)

Jujur adalah sifat yang harus dimiliki oleh orang beriman. Berlaku jujur harus dilakukan dimana pun dan kapan pun. Kebalikan dari sifat jujur adalah munafik. Dusta menjadi ciri-ciri dari orang yang munafik. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran QS.63:01:

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.”

Dalam pandangan syari’at, jujur dalam bahasa arab disebut ‘ash Sihdqun’. Kejujuran ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Jujur hati (Shidqul Qalbi)

Rasulullah bersabda:

“Ingatlah dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, akan baiklah seluruh tubuh. Dan bila ia rusak, rusaklah seluruhnya. Itulah kalbu.” (HR. Bukhari)

Hati yang sudah tidak memiliki jujur berarti telah terjadi kerusakan pada kebenaran diri. Agar hal ini tidak terjadi, peliharalah hati dengan menjadi ikhlas, tawakal, selalu khusyuk, dan selalu berdzikir. Allah berfirman:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenang.” (QS.13:28)

2. Jujur saat berucap (Shidqul Hadist)

Berkatalah dengan jujur akan suatu hal. Perilaku jujur ini sangat disukai Allah SWT dan dengan melakukannya, kita akan mendapat balasan dari Allah SWT yang sangat indah. Allah berfiman:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS.33:70-71)

3. Jujur dalam amal (Shidqul Amal)

Ucapan dan perbuatan yang tidak sesuai sangatlah dibenci oleh Allah SWT. Berbicara halus namun memiliki sikap kasar bukanlah cermin umat muslim yang beriman. Baik ucapan dan perbuatan haruslah seimbang.

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS.61:2-3)

4. Jujur bila berjanji (Shidqul Wa’d)

Membuat janji memang mudah, namun menepatinya terkadang sulit. Janganlah kita berjanji akan suatu hal jika kita tidak mampu untuk menepatinya. Jujurlah pada diri sendiri apakah benar kita dapat menepatinya atau hanya berkata karena keterpaksaan dan ketidakikhlasan.

Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfa’at) sampai ia dewasa dan penuhilah janji. sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.”(QS.17:34)

Jika memang harus berjanji, memohonlah pada Allah SWT agar diberikan kemudahan dalam menepatinya.

Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS.16:91)

5. Jujur dengan kenyataan (Shidqul Haal)

Rasulullah SAW bersabda, “Pegang teguhlah 6 perkara niscaya aku memberi jaminan surga. Berbicaralah dengan jujur bila kamu berbicara. Tepatilah janji bila kamu berjanji. Sampaikanlah amanat bila kamu diamanati. Jagalah farjimu dari perbuatan zina. Palingkanlah pandanganmu dari perbuatan maksiyat. Dan, tahanlah tanganmu dari meminta-minta.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban dari ‘Ubadah bin Shamit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *