Berikhtiar dan Bertawakal kepada Allah

Manusia diciptakan Allah berbekal akal. Dengan inilah kita wajib menggunakannya dalam berikhtiar sebelum bertawakal. Pada hakikatnya, tawakal adalah berusaha maksimal terlebih dahulu, yang kemudian dilanjutkan dengan berserah atas apapun keputusan-Nya.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya penentu segala sesuatu merupakan  hak otoritas Allah SWT. Ketika ikhtiar lengkap dengan tawakal telah dilaksanakan, sebagai wujud mensyukuri kesempatan yang telah Allah beri, hendaknya kita mempunyai rasa berkewajiban memberikan hak pada tubuh kita (beristirahat).

Allah berfirman:

“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS. Al-Furqan : 47).

Kalimat ‘untuk istirahat’ dalam ayat ini mengandung maksud menjaga kesehatan.

Bekerja sesuai dengan kemampuan diri

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dari Mu’adz bin Rifa’ah dari bapaknya berkata: Abu Bakar berdiri di atas mimbar kemudian menangis lalu berkata: Sungguh Rasulullah SAW berdiri pada tahun pertama hijrah di atas mimbar kemudian menangis, dan beliau bersabda: “Mintalah kepada Allah SWT ampunan (‘afwa) dan keselamatan (‘afiyah), sesungguhnya seseorang tidak diberikan sesuatu setelah keyakinan (iman) yang lebih baik dari keselamatan (‘afiyah).”

Kata afiat (‘afiyah) dalam kamus bahasa Arab diartikan sebagai perlindungan Allah untuk hamba-Nya dari segala macam bencana dan tipu daya, termasuk kesehatan.

Rasulullah bersabda:

 “Tidaklah seorangpun memakan makanan sama sekali yang lebih bagus dari memakan dari hasil kerja tangannya sendiri dan Nabiyyullah Dawud dahulu memakan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Al-Bukhari).

Dalam bekerja, kita seharusnya dapat memahami batasan diri, sejauh mana diri mampu melakukan pekerjaan tersebut. Jangan sampai kita merusak diri sendiri dengan dopping (penggunaan obat untuk meningkatkan stamina atau performa) demi kerja yang berlebihan. Bekerjalah sesuai dengan kemampuan diri.

Optimalkan yang positif

Sungguh Maha Besar Allah yang telah melimpahkan karunia berupa kesehatan bagi kita. Sudah seharusnya karunia sehat ini dipergunakan untuk optimalisasi kepositifan dalam diri, bukan hal negatif yang merugikan orang lain.

Rasulullah bersabda:

”Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain .” (HR. Bukhari).

Banyak penunjang demi menciptakan pola hidup sehat. Makanlah makanan yang memenuhi gizi  dan sesuai kemampuan masing-masing. Lakukan olahraga sebagaimana yang diperintahkan Rasul seperti berenang, memanah dan berkuda.

Perlu kita yakini bahwa di balik perintah Rasul, kini berenang diakui sebagai olahraga yang paling efektif, memanah sebagai pemusatan perhatian, berkuda sebagai sarana ketangkasan diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat