Berhati-hati Agar Terhindar dari Sifat Munafik

Dikisahkan suatu hari Hanzhalah Al Usayyidiy, salah satu juru tulis Rasulullah SAW bertemu dengan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu. Dia kemudian ditanya sahabat Rasulullah, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?” Dia lantas menjawab, “Hanzhalah kini telah jadi munafik.”

Abu Bakar lantas berkata, “Subhanallah, apa yang engkau katakan?” Dia pun menjawab, “Kami jika berada di sisi Rasulullah SAW, kami teringat kepada neraka dan surga sampai-sampai seperti melihatnya di hadapan mata. Saat keluar dari majelis Rasulullah dan bergaul dengan istri dan anak, sibuk dengan berbagai urusan, kami pun jadi banyak lupa”. Menanggapi perkataan Hanzhalah tersebut, Abu Bakar lantas menjawab, “Kami pun begitu.”

Dua sahabat ini kemudian menghadap Rasulullah SAW. Mereka mengadukan masalah yang berkecamuk di dada mereka. Rasulullah lantas menjawab, “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian mau terus menerus dalam beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan kalian terus mengingat-ingatnya, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur dan di jalan. Namun Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat. “Rasulullah mengulangi sampai tiga kali.

Kisah tersebut dikutip dari HR Muslim No. 2750. Kisah ini mengisahkan betapa sahabat Rasul sangat berhati-hati pada sifat munafik. Padahal, bisa jadi apa yang mereka maksudkan adalah bentuk naik turunnya iman. Iman seorang manusia dapat diibaratkan seperti roller coaster, terkadang di atas, sedangkan lain waktu berada di bawah.

Meski kualitas keimanan para sahabat tidak diragukan, mereka masih takut terjerembap pada sifat kemunafikan. Para sahabat sangat menyadari rentannya sifat munafik karena orang-orang munafik bukanlah non-Islam. Di dalam Al Quran surat An-Nisa ayat 142-143, secara eksplisit disebutkan bagaimana sifat orang munafik.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan, apabila mereka berdiri dengan shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud ria (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang kafir). Barang siapa yang disesatkan Allah, kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (QS. An-Nisa: 142-143)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat