5 Faktor Penting dalam Membesarkan “Pohon yang Baik”

Sungguh Maha Besar Allah yang memberikan perumpamaan manusia seperti pohon yang baik. Allah berfirman:

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Q.S Ibrahim: 24-25)

Sebagai umat muslim, haruslah kita memiliki akhlak yang baik. Perilaku yang baik ini nantinya akan diturunkan pada anak. Anak memiliki 4 jenis sekolah yang berbeda untuk dapat mengetahui seperti apa perilaku baik yang dimaksud. Sekolah pertama adalah keluarga. Sekolah kedua di lembaga pendidikan formal. Sekolah ketiga lingkungan sosial keagamaan, dan sekolah keempat media dengan segala jenisnya. Keempat sekolah ini saling memengaruhi dalam membentuk kepribadian anak.

Selain itu, terdapat 5 faktor penting dalam membesarkan “pohon yang baik” atau membesarkan anak dengan baik. Kelima faktor tersebut adalah:

Ketulusan pendidik

Dalam menanam pohon, kita dituntut untuk bersikap tulus dan penuh dengan kelurusan niat. Niat akan meneguhkan hati dan membuatnya bernilai ibadah. Begitu juga mendidik anak, orang tua atau guru harus ikhlas semata-mata mencari ridha Allah SWT. Kerja keras, dimulai dari berangkat pagi dan pulang petang bahkan malam hari, keringat bercucuran dan air mata berurai bukanlah hal yang mudah dilakukan. Namun ketulusan hati orang tua demi anak menjadi sosok yang baik inilah yang melahirkan kesungguhan, pengorbanan dan keteladanan yang akan menjadi panutan. Allah berfirman:

“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

(Luqman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya balasan. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Mahateliti.

Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.

Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.

Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 12-19)

Bibit yang berkualitas

Bibit yang bagus akan menghasilkan pohon yang bagus pula. Jika orang tua berakhlak baik, sikap ini akan turun pada anak dan dicontohnya. Anak yang berkualitas adalah buah hasil dari orang tua yang berkualitas pula. Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (QS. Al Bayyinah: 7-8)

Bibit unggul sangat ditentukan oleh bobot induk pohonnya. Pengaruh pembawaan itu penting, namun lingkungan dan pendidikan bisa membentuk mereka melebihi kedua orang tuanya.

Tanah yang subur

Dengan niat tulus dan benih unggul akan menumbuhkan tanaman yang semakin baik jika tanahnya subur. Sebagai contoh seorang yang hendak menikah, haruslah mencari pasangan yang berakhlak baik (subur) sebagai lahan ditaburinya “benih”.

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (QS [7]:58).

Anak yang belajar di empat sekolah kehidupan di atas harus menjadi tanah subur untuk tumbuhnya bibit tanaman. Orang tua mesti membangun keluarga yang baik (khair al-usrah) dan memilih sekolah terbaik untuk anaknya.

Pengawasan yang intensif

Dengan ditambahnya pengawasan secara intensif, tumbuhan akan terjamin baik hasilnya. Jangan biarkan hama menyerang tanaman. Meskipun anak-anak berada di pesantren, tetaplah harus tetap dijenguk, apalagi di sekolah yang bebas dan terbuka. Kewajiban orang tua mengawasi mereka dari segala macam virus yang merusak pertumbuhannya. Melihat lingkungan sosial yang buruk saat ini, orang tua wajib tahu anak pergi ke mana, bersama siapa, kembali pukul berapa dan untuk tujuan apa.

Pupuk yang cukup

Semua hal diatas akan menjadi sempurna jika ditambah dengan pupuk yang cukup. Hal ini berarti anak-anak harus diberi pupuk motivasi dan apresiasi agar tumbuh gairah dan kekuatan. Juga, disirami air kasih sayang yang menyejukkan kerisauan hati dan pikirannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *