4 Adab yang Wajib Diketahui Saat Mudik

www.griyaquran.org– Iedhul fitri di Indonesia sangat identik dengan mudik. Dengan mudik, status seseorang otomatis berubah menjadi musafir. Ada adab-adab yang harus diperhatikan ketika safar. Adab-adab ini jika dilakukan, akan bernilai ibadah.

Membaca Doa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa: bismillaahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula walaa quwwata illaa billah (dengan menyebut nama Allah, yang tidak ada daya tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah), maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu akan diberi petunjuk, kamu akan dicukupi kebutuhannya, dan kamu akan dilindungi’. Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi (oleh Allah)’” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi).

Ketika naik kendaraan apapun, dianjurkan membaca doa:
Subhaanalladzi sakhkhoro lanaa hadza wa maa kunna lahu muqrinin. Wa innaa ila robbinaa lamunqolibuun

“Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami”.

Mengangkat Pemimpin

“Jika tiga orang (keluar) untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan.” (HR. Abu Daud).

Dan yang dipilih sebagai ketua rombongan adalah orang yang mempunyai akhlak yang paling baik, paling dekat dengan teman-temannya, paling dapat mengutamakan kepentingan orang lain (tidak egois) dan senantiasa mencari kesepakatan rombongan (ketika ada perbedaan pendapat).

Larangan Bepergian Tanpa Mahram bagi Wanita

Di dalam syariat Islam, seorang wanita tidak boleh bersafar tanpa disertai oleh mahramnya. Sebab hal itu akan menimbulkan fitnah (malapetaka) bagi dirinya dan para lelaki yang ada di sekelilingnya.

Dengan adanya mahram bagi wanita ketika bersafar, maka ia akan terlindungi dan terawasi serta ada yang mengontrolnya. Karena wanita selalu jadi perhatian sekitar. Larangan ini sebenarnya dalam rangka menjaga wanita dari hal-hal yang tidak diinginkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian sepanjang sehari semalam tanpa ditemani mahram.“ [HR. Al-Bukhari(1088)].

Perbanyak Berdoa

Hendaknya menggunakan waktu perjalanan untuk memperbanyak doa. Karena ketika safar adalah waktu terkabulnya doa. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:
“Ada tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak ada keraguan lagi tentangnya: doanya seorang yang dizalimi, doanya musafir, doa buruk orang tua terhadap anaknya’” (HR. Ahmad 2/434, Abu Daud).{}

 

 





Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE


/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}


www.griyaquran.org– Iedhul fitri di Indonesia sangat identik dengan
mudik. Dengan mudik, status seseorang otomatis berubah menjadi musafir. Ada
adab-adab yang harus diperhatikan ketika safar. Adab-adab ini jika dilakukan,
akan bernilai ibadah.



Membaca Doa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Apabila seseorang keluar
dari rumahnya kemudian dia membaca doa: bismillaahi tawakkaltu ‘alallahi laa
haula walaa quwwata illaa billah (dengan menyebut nama Allah, yang tidak ada
daya tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah), maka dikatakan kepadanya,
‘Kamu akan diberi petunjuk, kamu akan dicukupi kebutuhannya, dan kamu akan
dilindungi’. Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu
setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang
yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi (oleh Allah)’” (HR. Abu
Daud, At Tirmidzi).

Ketika naik kendaraan apapun, dianjurkan membaca doa:
Subhaanalladzi sakhkhoro lanaa hadza wa maa kunna lahu muqrinin. Wa innaa ila
robbinaa lamunqolibuun

“Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami
sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada
Tuhan kami”.

Mengangkat Pemimpin

“Jika tiga orang (keluar) untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat
salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan.” (HR. Abu Daud).

Dan yang dipilih sebagai ketua rombongan adalah orang yang mempunyai akhlak
yang paling baik, paling dekat dengan teman-temannya, paling dapat mengutamakan
kepentingan orang lain (tidak egois) dan senantiasa mencari kesepakatan
rombongan (ketika ada perbedaan pendapat).

Larangan Bepergian Tanpa Mahram bagi Wanita

Di dalam syariat Islam, seorang wanita tidak boleh bersafar tanpa disertai
oleh mahramnya. Sebab hal itu akan menimbulkan fitnah (malapetaka) bagi dirinya
dan para lelaki yang ada di sekelilingnya.

Dengan adanya mahram bagi wanita ketika bersafar, maka ia akan terlindungi
dan terawasi serta ada yang mengontrolnya. Karena wanita selalu jadi perhatian
sekitar. Larangan ini sebenarnya dalam rangka menjaga wanita dari hal-hal yang
tidak diinginkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak
halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk
bepergian sepanjang sehari semalam tanpa ditemani mahram.“ [HR. Al-Bukhari(1088)].

Perbanyak Berdoa

Hendaknya menggunakan waktu perjalanan untuk memperbanyak doa. Karena ketika
safar adalah waktu terkabulnya doa. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:
“Ada tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak ada keraguan lagi tentangnya:
doanya seorang yang dizalimi, doanya musafir, doa buruk orang tua terhadap
anaknya’” (HR. Ahmad 2/434, Abu Daud).{}

 

 

www.griyaquran.org– Iedhul fitri di Indonesia sangat identik dengan mudik. Dengan mudik, status seseorang otomatis berubah menjadi musafir. Ada adab-adab yang harus diperhatikan ketika safar. Adab-adab ini jika dilakukan, akan bernilai ibadah.
Melakukan perjalanan panjang tentu membutuhkan persiapan yang matang. Di dalam Al Quran Allah telah berfirman,
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”(QS. Al-Baqarah: 197).

Bekal yang paling utama yang harus dimiliki oleh seseorang ketika hendak melakukan perjalanan adalah ilmu. Supaya perjalanannya bisa mendapatkan ridho Allah dan tetap di atas tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak hanya memperingatkan mengenai pentingnya perbekalan ketika safar, Allah ta’ala memberi dispensasi bagi orang yang bersafar. Berikut ini adab ketika bersafar sehingga safar kita bisa bernilai ibadah.

Membaca Doa

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa: bismillaahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula walaa quwwata illaa billah (dengan menyebut nama Allah, yang tidak ada daya tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah), maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu akan diberi petunjuk, kamu akan dicukupi kebutuhannya, dan kamu akan dilindungi’. Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi (oleh Allah)’” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi).

Ketika naik kendaraan apapun, dianjurkan membaca doa:
Subhaanalladzi sakhkhoro lanaa hadza wa maa kunna lahu muqrinin. Wa innaa ila robbinaa lamunqolibuun

“Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami”.

Berpamitan Kepada yang Ditinggal

Ketika sseseorang hendak bepergian, dianjurkan untuk berpamitan kepada keluarga, kerabat dan kawan-kawan. Sebab Allah menjadikan berkah di dalam doa mereka. Inilah sunnah yang banyak dilupakan oleh kaum muslimin pada hari ini, yaitu melepas kepergian dengan doa yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Qoza’ah berkata, “Ibnu umar pernah berkata kepadaku,’ Marilah kulepas kepergianmu sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas kepergianku, “Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanahmu dan penuntup amalmu.”(HR. Abu Dawud).

Senada dengan hadits Rasulullah, Al-Imam Ath-Thibiy rahimahullah berkata, “Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan agama dan amanah seseorang sebagai titipan, karena di dalam safar seseorang akan tertimpa rasa berat, dan takut sehingga hal itu menjadi sebab tersepelekannya sebagian perkara-perkara agama. Lantaran itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebaikan bagi orang yang safar berupa bantuan dan taufiq.

Mengangkat Pemimpin

“Jika tiga orang (keluar) untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan.” (HR. Abu Daud).

Dan yang dipilih sebagai ketua rombongan adalah orang yang mempunyai akhlak yang paling baik, paling dekat dengan teman-temannya, paling dapat mengutamakan kepentingan orang lain (tidak egois) dan senantiasa mencari kesepakatan rombongan (ketika ada perbedaan pendapat).

Larangan Bepergian Tanpa Mahram bagi Wanita

Di dalam syariat Islam, seorang wanita tidak boleh bersafar tanpa disertai oleh mahramnya. Sebab hal itu akan menimbulkan fitnah (malapetaka) bagi dirinya dan para lelaki yang ada disekelilingnya.

Dengan adanya mahram bagi wanita ketika bersafar, maka ia akan terlindungi dan terawasi serta ada yang mengontrolnya. Karena wanita selalu jadi perhatian sekitar. Larangan ini sebenarnya dalam rangka menjaga wanita dari hal-hal yang tidak diinginkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian sepanjang sehari semalam tanpa ditemani mahram.“ [HR. Al-Bukhari(1088)].

Perbanyak Berdoa

Hendaknya menggunakan waktu perjalanan untuk memperbanyak doa. Karena ketika safar adalah waktu terkabulnya doa. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:
“Ada tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak ada keraguan lagi tentangnya: doanya seorang yang dizalimi, doanya musafir, doa buruk orang tua terhadap anaknya’” (HR. Ahmad 2/434, Abu Daud).{}

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat