Jadikan Islam Sebagai Penuntun (II)

Jadikan Islam Sebagai Penuntun (II)

Sudah seharusnya setiap umat muslim hanya berserah diri kepada Allah SWT dengan agama yang dibawa nabi Muhammad SAW, yaitu Islam sebagai sang penuntun dengan tidak mencampur-adukkan antara yang haq dan batil meskipun berdalih untuk bertoleransi. Rasulullah bersabda:

“Hai kaum Muslimin, hari (Jum’ah) ini adalah satu hari yang Allah Ta’ala jadikan hari raya. Karena itu hendaklah kamu mandi” [HR. Malik]. Baca selengkapnya

Jadikan Islam Sebagai Penuntun (I)

Jadikan Islam Sebagai Penuntun (I)

Sebagai umat muslim perlulah kita mengetahui dengan baik dan benar bahwa agama Islam itu adalah agama yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW seorang nabi terakhir. Dalam hal ini Allah SAW menyatakan di dalam firman-Nya:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabinabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab/ 33: 40).

Allah SWT di dalam QS. Al Maidah/ 5: 3 berfirman:

….“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”….

Dari surat tersebut Allah SWT menjelaskan bahwa orang-orang kafir menjadi kecil nyali karena mereka telah berputus asa, tidak sanggup mengungguli keagungan-Nya. Dan melalui Islam ini pula kenikmatan Allah SWT bagi hamba-Nya menjadi sempurna, sebagaimana dengannya pula agama para nabi dan rasul terdahulu disempurnakan. Di dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam …. (QS. Ali Imran/ 3: 19).

Dari surat ini terdapat beberapa pelajaran yang dapat kita peroleh, diantaranya yaitu ayat yang mulia ini menegaskan bahwa Islam adalah satu2nya agama yang benar dan yang diridhai Allah SWT. Maka tidak ada jalan lain untuk beribadah kepada-Nya kecuali dengan Islam, yaitu agama yang dibawa nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu, barangsiapa yang berjumpa dengan Allah setelah pengutusan nabi Muhammad SAW dalam keadaan tidak mengikuti agama beliau, maka tidak akan diterima agamanya, sebagaimana firman Allah SWT di dalam QS. Ali Imran/ 3: 85:

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

Di dalam ayat lain, yakni di dalam QS. Al Bayinah/ 98: 6 Allah memastikan bahwa seluruh non muslim dan kaum musyrikin tempatnya adalah di neraka yang kekal, firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.”

Melalui Islam ini pulalah Allah SAW menegaskan kepada seluruh manusia untuk memeluknya melalui para rasul utusan-Nya, sebagaimana Allah SAW telah menegaskan perintah-Nya tersebut dalam QS. Al A’raf/ 7: 158, yakni:

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk” .

Secara umum, Islam bermakna berserah diri kepada Allah SWT, artinya berserah diri kepada Allah dengan segala macam ibadah yang sesuai dengan apa yang Allah telah syari’atkan. Dari makna Islam secara umum ini bisa dipahami bahwa seluruh umat dan pengikut nabi-nabi yang terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW juga beragama Islam, sebab seluruh nabi dan rasul yang terdahulu pun menyeru umat manusia untuk berserah diri kepada Allah SAW. Berikut firman Allah SAW ketika mengisahkan Nabi Ibrahim as yang berdo’a di dalam QS. Al Baqarah/ 2: 128:

“Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami ummat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Adapun makna Islam secara khusus adalah sebagaimana yang telah dijabarkan pada awal tulisan ini, yaitu agama terakhir yang datang bersama diutusnya seorang nabi terakhir, nabi Muhammad SAW, yaitu agama yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepadanya dan kepada segenap umatnya sampai hari kiamat.

Keajaiban Dari Membaca dan Menghayati Al-Quran

Keajaiban Dari Membaca dan Menghayati Al-Quran

Al-Quran memiliki keajaiban dahsyat bagi umat muslim yang mau tekun membaca dan mengamalkannya. Al-Quran memiliki manfaat besar bagi setiap jiwa manusia. Dalam hal ini, Allah SWT telah memberikan bukti-bukti yang nyata akan tumbuhnya pribadi-pribadi yang baik bila manusia jika memiliki kesungguhan hati untuk membaca dan mengamalkan A-Quran sebagaimana firman-Nya:

“Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (shalat).” (QS. 3:113)

“Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. 3:114)

Seseorang yang selalu membaca dan mengamalkan Al-Quran pasti memiliki karakter yang baik. Karakter inilah yang akan terbentuk menuju sifat-sifat mulia bila mereka mau bertekun membaca, menghayati dan mengamalkan firman-firman Allah SWT.

Tidak hanya sekedar dibaca, namun juga dipahami untuk kemudian diamalkan untuk diri sendiri hingga menumbuhkan rasa cinta untuk beribadah kepada Allah SWT. Sifat yang demikian akan selalu berusaha menambah kebaikan-kebaikan untuk bekal menuju akherat dan terus menerus mengamalkan kebaikan-kebaikan yang Allah SWT tunjukkan padanya.

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. 35:29-30)

Sungguh besar keajaiban dari Al-Quran. Amal-amal yang ditunjukkan oleh Allah dalam Al-Quran selalu menuntun manusia untuk berbuat baik pada diri sendiri dan pada orang lain.

Membaca, memahami, dan mengamalkan isi dari Al-Quran sangat perlu dibudayakan dalam kehidupan bermasyarakat, agar mereka memilki sikap yang hati-hati dalam hidup. Dengan membaca dan menghayati Al-Quran, manusia dapat menggapai jalan yang membahagiakan. Manusia juga akan tahu mengapa dirinya tersesat, sehingga kemudian segera menyadari dan keluar dari kesesatannya.