Inilah Penyakit yang Ditakuti Orang Beriman

Inilah Penyakit yang Ditakuti Orang Beriman

Penyakit yang paling ditakuti orang yang berimana adalah ar-riya’. Seseorang dengan penyakit ini menginginkan orang lain mengetahui perbuatan baik apa yang telah dilakukannya. Dengan kata lain, ia tidak mengharapkan pahala dari Allah, tetapi hanya mengharapkan imbalan atau pujian dari makhluk. Orang seperti ini hakikatnya telah berpindah tuhan kepada makhluk. Meski tidak sampai pada tahap menyembah, namun sedikit kemusyrikan muncul di dalamnya. Itulah mengapa Rasulullah SAW menganggap perbuatan riya’ sebagai syirik kecil. Baca selengkapnya

Pribadi Rasulullah sebagai Suri Tauladan

Pribadi Rasulullah sebagai Suri Tauladan

Dikisahkan pada suatu hari Aisyah RA menceritakan bahwa orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah SAW, lalu mereka berkata, “kehancuran atas kalian.” Aisyah lalu membalasnya, “begitu juga atas kalian, mudah-mudahan Allah melaknat dan memurkai kalian.”

Rasulullah SAW lalu bersabda:

“Tenanglah wahai Aisyah! Hendaknya kamu berlemah lembut dan jauhilah kekerasan (kekejaman) dan ucapan kotor.” Aisyah menjawab, Apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakan, wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, Apakah engkau juga tidak mendengar apa yang aku katakan? Aku pun sudah menjawabnya, (doaku) kepada mereka dikabulkan, sedangkan (doa mereka) kepadaku tidak dikabulkan.” (HR Bukhari-Muslim).

Adapun Abu Hurairah RA menceritakan bahwa suatu hari ada orang Arab Badui yang buang air kecil di masjid. Para sahabat pun marah dan hampir saja memukulinya. Sungguh mulia sikap Rasulullah, Rasulullah mencegah mereka dan bersabda:

“Biarkan dia (menyelesaikan kencingnya), dan siramlah kencingnya dengan seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk memberikan kemudahan bukan untuk memberikan kesulitan.” (HR Bukhari).

Rasulullah memang pantas menjadi suri tauladan bagi kita semua. Bagaimana tidak? Di tengah banyaknya yang menghujat dan berusaha menyakiti, Rasulullah masih menunjukkan kasih sayangnya dan bersikap lemah lembut. Pribadi yang menakjubkan dari Rasulullah ini diteladankannya dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah berusaha mengajarkan pada kita bahwa bersikap lemah lembut dalam bermasyarakat merupakan cerminan dari ajaran Islam yang rahmatan lil ’alamin. Allah bersabda:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS al-Hujuraat [49]: 13).

Sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, Islam berlaku universal sehingga kehadiran dan manfaatnya harus dinikmati seluruh umat manusia, baik Muslim maupun non-Muslim. Allah bersabda:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu agar menjadi rahmat bagi seluruh alam, baik manusia maupun alam lainnya.” (QS al-Anbiya [21]: 107).

Oleh sebab itu di setiap dakwahnya, Rasul selalu mengedepankan pendekatan yang sangat bijaksana (hikmah), penuh kearifan, nasihat yang baik (mauidzotul hasanah), melahirkan kondisi yang sejuk, damai, dan memperbanyak dialog (wajadilhum billati hiya ahsan) yang kemudian melahirkan saling pengertian dan memahami di antara kita.

Dalam kehidupan bermasyarakat, banyak peristiwa kekerasan terjadi yang bahkan menelan korban jiwa. Sebagai umat muslim seharusnya kita dapat lebih bersikap bijaksana dan lemah lembut seperti yang selalu diajarkan Rasulullah. Mengedepankan kebersamaan dalam menyelesaikan persoalan perbedaan di antara kita perlulah untuk diterapkan.

Pentingnya Mengutamakan Orang Lain

Pentingnya Mengutamakan Orang Lain

Rasulullah bersabda:

Salman al-Farisi pernah berkata dan dibenarkan oleh Nabi SAW, “…Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dan dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu juga memiliki hak atasmu, maka hendaknya engkau tunaikan setiap hak kepada pemiliknya.” (HR Bukhari).

Sudah menjadi keharusan saat memperhatikan diri sendiri dan orang dekat tidak berarti boleh melupakan hak-hak orang lain yang lebih jauh. Sebab, memperhatikan orang lain dengan cara berbagi kebaikan, termasuk akhlak terpuji dan merupakan salah satu ciri orang bertakwa. (QS al-Baqarah [2]: 177; Ali Imran [3]: 133-134).

Bahkan, dalam Al Quran juga disebutkan model berbagi kepada orang lain yang sangat dipuji Allah SWT yang biasa disebut al-itsar, yakni sifat suka mengutamakan kepentingan orang lain, sekalipun dirinya membutuhkan. Mengenai sifat al-itsar ini digambarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam salah satu hadisnya.

Suatu ketika seorang sahabat Anshar kedatangan tamu seorang sahabat Muhajir. Ia sangat ingin menghormati tamunya tersebut. Namun, makanan yang ada sangat terbatas. Kemudian, ia bertanya kepada istrinya, “Apakah kamu memiliki sesuatu untuk menjamu tamu?”

Istrinya menjawab, “Tidak ada, hanya makanan yang cukup untuk anak-anak kita.” Lalu, sahabat tersebut berkata, “Alihkan perhatian anak-anak kita dengan sesuatu, kalau mereka ingin makan malam, ajak mereka tidur. Dan apabila tamu kita masuk (ke ruang makan), padamkanlah lampu. Dan tunjukkan kepadanya bahwa kita sedang makan bersamanya. Mereka duduk bersama, tamu tersebut makan, sedangkan mereka tidur dalam keadaan menahan lapar.

Tatkala datang waktu pagi, pergilah mereka berdua (sahabat dan istrinya) menuju Rasulullah SAW. Lalu, Rasulullah SAW memberitakan (pujian Allah SWT terhadap mereka berdua), “Sungguh Allah merasa kagum dengan perbuatan kalian berdua terhadap tamu kalian.”

Kemudian, turunlah ayat yang memuji sahabat Anshar tersebut, “… dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS al-Hasyr: 9)

Konsep itsar lahir dari prinsip sesama Muslim dan Mukmin bersaudara. Mereka bagai satu  tubuh. Jika yang satu sakit dan yang lain akan merasakannya. Oleh karena itu, ketika seorang Muslim membebaskan kesulitan sesamanya, pada hakikatnya ia sedang membebaskan kesulitan dirinya.

Rasul SAW menggambarkan hubungan persaudaraan Muslim sejati dengan perumpamaan yang indah:

“Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam saling mencintai dan saling mengasihi bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan, sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR Muslim).

Jadi, mengutamakan kepentingan orang lain (itsar) merupakan puncak kebajikan dan bagian dari akhlak mulia. Dan perbuatan tersebut merupakan pengejawantahan persaudaraan Islam sejati. Meski mungkin bagi sebagian orang terlihat aneh, tetapi di sisi Allah SWT termasuk perbuatan sangat terpuji.