Guru Tahfidz Harus Mumpuni

www.griyaquran.org- Guru adalah tokoh sentral yang menentukan tercapainya goal siswa. Terlebih dalam pembelajaran tahfidz Al Qur’an, ia harus mumpuni. Hal itu dijelaskan dalam Pelatihan Metode Sahabat Tahfidz Griya Al Qur’an di SDI Raden Patah, Rabu (10/7).

Salah satu goal dalam pelatihan ini, menurut Ustadz Ahmad Aziz Sulthon Al Hafidz, Manajer Program Sahabat Tahfidz, adalah para guru bisa memetakan potensi dan memandu siswa dalam membuat perencanaan hafalan.

Ia kemudian menjelaskan bahwa guru yang paling paham kemampuan siswa. Dengan pengalaman menghafal dan banyaknya pendampingan santri untuk menghafal, mereka akan punya formula khusus yang pas untuk diaplikasikan pada siswa.

“Pengalaman menghafal itu penting. Karenanya, semua pengajar tahfidz di Griya Al Qur’an adalah seorang hafidz Al Qur’an dan bahkan beberapanya mempunyai sanad yang menyambung sampai ke Rasulullah,” ujar Aziz.

Dalam pelatihan yang diikuti oleh 20 guru SDI Raden Patah Surabaya ini juga menjelaskan dengan detil bagamana guru bisa menciptakan rasa nyaman untuk siswanya. “Karena menghafal itu butuh suasana kelas dan hati yang nyaman,” ujarnya.

Suasana nyaman di kelas, bisa tercipta dari kebersihan kelas, penataan bangku yang tepat, tahapan pembelajaran yang tertata serta banyak hal lain yang mendukung terciptanya kenyamanan dalam kelas.

“Ada beberapa model penataan bangku, misalnya dengan model kereta api, yaitu siswa barjajar ke belakang, model shaf sholat, dan halaqah. Penataan bangku ini, sebaiknya dalam waktu tertentu diubah agar menghindari kebosanan,” katanya.

Sementara tahapan pembelajaran yang tepat, menurut pria 37 tahun ini, akan sangat memudahkan siswa dalam menambah hafalan.

Griya Al Qur’an, menurutnya, punya tahapan pembelajaran yang khusus diterapkan di kelas tahfidz, yang disingkat dengan kata ‘SAHABAT’.

“SA yang dari kata ‘salam’ dan ‘apersepsi’. Maksudnya guru harus selalu membuka kelas dengan salam, berdoa dan mengulang hafalan yang lalu,” katanya. HA dari kata ‘hafalkan’ yang berarti proses siswa menghafalkan secara mandiri.

Sementara B dari kata ‘baca-simak’. Dalam proses ini, siswa akan saling simak dengan  temannya.

A dari kata ‘antarkan’ yang berarti disetorkan ke ustadz yang mendampingi. “Ustadz, akan mengoreksi dan menandai mana-mana yang harus diperbaiki,.”

Dan terakhir T dari kata ‘tutup’, yang berarti pengajar menutup dengan evaluasi, motivasi dan doa. “Ini adalah SOP pengajar di Griya Al Qur’an. Dari pengalaman kami, siswa sangat terbantu dalam menambah hafalannya,” jelasnya di hadapan para guru SDI Raden Patah (wir).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat