Metode Belajar Membaca Al-Qur’an (Part1)

Amalan membaca al-Qur’an merupakan suatu keperluan dan juga tanggung jawab bagi invidual seorang muslim dan juga dituntut untuk mahir membaca al-Qur’an, apalagi memahami dan mengamalkannya. Maka dari itu, bukan saja isi al-Qur’an yang menjadi panduan hidup manusia, malah membaca juga dapat menenangkan jiwa dan dinilai ibadah.

Kepentingan mempelajari serta mengajarkan al-Qur’an suatu yang tidak dapat kita elakkan lagi karena ia merupakan sumber asas dalam pembinaan manusia. Selanjutnya Mohd Ali (1991) dan Haron Din (1992) menyebutkan membaca al-Qur’an adalah ibadah yang diberi pahala oleh Allah kepada pembacanya jika dibaca dengan benar serta mengikuti kaedah bacaan dan hukum tajwid. hal ini selaras jika kita merujuk kepada hadist Rasul SAW.
:

 خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ  رواه البخاري

 

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya.”  [Al-Bukhari 5027]

Sejarah kegiatan belajar dan mengajar al-Qur’an dimulai dari pelantikan Muhammad menjadi Rasul, tepatnya di gua Hiro’, malaikat Jibril memandu Nabi untuk membaca 5 ayat awal dari surah al-‘Alaq, Jibril memulai dengan membaca yang kemudian ditirukan oleh Rasul SAW yang sering kali kita menyebutnya dengan istilah TALAQQI.

Metode talaqqi (pengajaran bertatap muka) juga dipakai oleh Rosulullah dalam mengajarkan al-Qur’an dan keilmuan lain kepada para sahabat dan metode talaqqi juga masih terus berlanjut sampai era modern ini.

Metode pembelajaran al-Qur’an dewasa ini sering kita jumpai melalui banyak pendekatan seperti  belajar al-Qur’an 3 jam, belajar al-Qur’an cepat dan lain sebagainya, yang juga kebanyakan dari beberapa metode tersebut masih fokus pada kecepatan bukan ketepatan. Alangkah baiknya ada metode yang menggabungkan keduanya yang selain cepat juga tepat.

Dalam rubrik kali ini kita akan mencoba menggali metode yang cepat dan tepat melalui beberapa prinsip pembelajaran al-Qur’an

 

 PRINSIP BELAJAR BERDASARKAN USIA

 

A. PEDAGOGI

Secara literal berati seni dan ilmu pengetahuan tentang mendidik anak-anak dan sering digunakan sebagai sebuah sinonim untuk suatu pengajaran. Secara lebih tepatnya, pedagogi mewujudkan pendidikan yang berfokuskan guru.

Pedagogi bertujuan agar anak di kemudian hari mampu memahami dan menjalani kehidupan dan kelak dapat menghidupi diri mereka sendiri, dapat hidup secara bermakna, dan dapat turut memuliakan kehidupan.

Dalam model pedagogi, guru memiliki tanggung jawab penuh untuk membuat keputusan tentang apa yang akan dipelajari, bagaimana akan dipelajari, ketika akan dipelajari, dan jika materi telah dipelajari. Pedagogi, atau instruksi guru—diarahkan seperti yang umumnya dikenal, tempat siswa dalam peran tunduk membutuhkan ketaatan dengan instruksi guru. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa peserta didik hanya perlu mengetahui apa guru mengajarkan mereka. Hasilnya adalah situasi pengajaran dan pembelajaran yang aktif mempromosikan ketergantungan pada instruktur (Knowles, 1984).

 

B. ANDRAGOGI

Berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang dewasa dan agogos berarti memimpin. Perdefinisi andragogi kemudian dirumuskan sebagau “Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar”.

Asumsi andragogi sebagai berikut :

  • Orang dewasa perlu dibina untuk mengalami perubahan dari kebergantungan kepada pengajar kepada kemandirian dalam belajar. Orang dewasa mampu mengarahkan dirinya mempelajari sesuai kebutuhannya.
  • Pengalaman orang dewasa dapat dijadikan sebagai sumber di dalam kegiatan belajar untuk memperkaya dirinya dan sesamanya.
  • Kesiapan belajar orang dewasa bertumbuh dan berkembang terkait dengan tugas, tanggung jawab dan masalah kehidupannya.
  • Orientasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari berpusat pada bahan pengajaran kepada pemecahan-pemecahan masalah.
  • Motivasi belajar orang dewasa harus diarahkan dari pemberian pujian dan hukuman kepada dorongan dari dalam diri sendiri serta karena rasa ingin tahu.

 

Kesimpulan :

 

Perbedaan antara Pedagogi dan Andragogi

Tentang

Pedagogis

Andragogis

Konsep diri peserta didik Pribadi yang bergantung kepada gurunya Semakin mengarahkan diri (self-directing)
Pengalaman peserta didik Masih harus dibentuk dari pada digunakan sebagai sumber belajar Sumber yang kaya untuk belajar bagi diri sendiri dan orang lain
Kesiapan belajar peserta didik Seragam (uniform) sesuai tingkat usia dan kurikulum Berkembang dari tugas hidup & masalah
Orientasi dalam belajar Orientasi bahan ajar (subject centered) Orientasi tugas dan masalah (task or problem centered)
Motivasi belajar Dengan pujian, hadiah, dan hukuman Oleh dorongan dari dalam diri sendiri (internal incentives, curiosity)

 

 

Khoirul Huda S.Pd.I

Nama : Khoirul Huda S.Pd.I Jabatan : Direktur Program Yayasan Griya Al- Qur'an

One thought on “Metode Belajar Membaca Al-Qur’an (Part1)

  • February 23, 2016 at 13:19
    Permalink

    Aslm.wr.wb. apakah Griya Al Quran ini ada di kota Medan?
    kalau tidak ada, mohon donk dibuka cabangnya di kota Medan

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *