Mengenal Para Imam Bacaan Al Qur’an

www.griyaquran.org- Selama ini kita sudah mengenal berbagai variasi bacaan Al Qur’an yang dikenal dengan qiro’ah sab’ah. Variasi bacaan Al Qur’an yang tersambung hingga ke Rasulullah itu diriwayatkan oleh tujuh imam bacaan Al Qur’an yang akan dijelaskan dalam tulisan ini.

Variasi bacaan (qiraat) dalam Al Qur’an yang mutawatir, bersumber dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bacaan yang mutawatir itu yang popular disebut dengan qiraah sabah atau tujuh qira‘at yang disandarkan kepada para Imam Qira‘at yang berjumlah tujuh.

Seperti yang sebelumnya telah diketahui, bahwa penisbahan qiraat Al Qur’an sama halnya dengan penisbahan hadist. Qira‘at-qira‘at tersebut diajarkan secara turun-temurun dari guru pertama, yakni Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai penerima wahyu Al Qur’an yang diajarkan langsung dari malaikat Jibril bagaimana cara membaca Al Qur’an. Setelah itu, Rasulullah mengajarkan ke para sahabat dan terus menurun pada murid-muridnya hingga pada penetapan para Imam Qira‘at. Imam Qira‘at yang berjumlah tujuh ini.

Imam Nafi

Imam Nafi punya nama lengkap Abu Ruwaim Nafi’ bin Abdurrahman bin Abu Nu’aim al-Laitsi. Beliau lahir di kota Isfahan pada tahun 70 H dan wafat di Madinah pada tahun 177 H. Imam Nafi’ mempelajari qira‘at dari Abu Ja’far Yazid bin Qa’qa’, Abdurrahman bin Hurmuz, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin ‘Iyasy bin Abi Rabi’ah al-Makhzumi. Mereka semua menerima qira‘at yang mereka ajarkan dari Ubay bin Ka’ab dari Rasulullah.

Murid-murid Imam Nafi’ sangat banyak, antara lain, Imam Malik bin Anas, al-Lais bin Sa‘ad, Abu ‘Amar ibn al-‘Alla’, ‘Isa bin Wardan dan Sulaiman bin Jamaz. Perawi qira‘at Imam Nafi’ yang terkenal ada dua orang, yaitu Qaaluun (w. 220 H) dan Warasy (w.197 H).

Imam Ibnu Katsir

Imam Ibnu Katsir mempunyai nama lengkapnya adalah Abdullah ibn Katsir bin Umar bin Abdullah bin Zada bin Fairuz bin Hurmuz al-Makki. Beliau lahir di Makkah tahun 45 H dan wafat pada 120 H. Beliau mempelajari qira‘at dari Abu as-Sa’ib, Abdullah bin Sa’ib al-Makhzumi, Mujahid bin Jabr al-Makki dan Diryas (maula Ibn ‘Abbas).

Mereka semua masing-masing menerima dari Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Sabit dan Umar bin Khattab; ketiga sahabat ini menerima pelajaran mengenai bacaan Al Qur’an langsung dari Rasulullah. Murid-murid Imam Ibn Katsir banyak sekali, namun perawi qira‘atnya yang terkenal ada dua orang, yaitu Bazzi (w. 250 H) dan Qunbul (w. 251 H).

Imam Abu Amr

Nama lengkapnya adalah Zabban bin Ala’ bin ‘Ammar bin ‘Aryan al-Mazani at-Tamimi al-Bashr. Ada yang mengatakan bahwa namanya adalah Yahya. Beliau adalah imam Bashrah sekaligus ahli qiraat Bashrah. Beliau lahir di Mekkah tahun 70 H, besar di Bashrah, kemudian bersama ayahnya berangkat ke Makkah dan Madinah hingga akhirnya wafat di Kufah pada tahun 154 H.

Beliau belajar qira‘at dari Abu Ja’far, Syaibah bin Nasah, Nafi’ bin Abu Nu’aim, Abdullah ibn Kasir, ‘Ashim bin Abu al-Nujud, dan Abu al-‘aliyah. Abu al-‘Aliyah menerimanya dari Umar bin Khattab, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Abbas. Keempat Sahabat ini mempelajari qira‘at langsung dari Rasulullah. Murid beliau yang terkenal adalah Yahya bin Mubarak bin Mughirah al-Yazidi (w. 202 H.) Dari Yahya inilah kedua perawi qiraat Abu ‘Amr menerima qiraatnya, yaitu al-Duuri (w. 246 H) dan al-Suusii (w. 261 H).

Imam Ibnu Amir

Abdullah bin ‘Amir bin Yazid bin Tamim bin Rabi’ah al-Yahshabi adalah nama lengkap dari Imam Ibnu Amir. Nama panggilannya adalah Abu ‘Amr, beliau termasuk golongan tabi’in. Beliau adalah imam qira‘at negeri Syam, lahir pada tahun 28 H, wafat pada tahun 118 H di Damsyik. Ibn ‘Amir menerima qira’at dari Mugirah bin Abu Syihab, Abdullah bin Umar bin Mugirah al-Makhzumi dan Abu Darda’ hanya berselang dengan seorang sahabat Rasulullah, yakni Utsman bin Affan. Di antara para muridnya yang menjadi perawi qira‘atnya yang terkenal adalah Hisyam (w. 145 H) dan Ibn Zakwaan (w. 242 H).

Imam Ashim

Nama lengkapnya adalah ‘Ashim bin  Abu al-Nujud. Ada yang mengatakan bahwa nama ayahnya adalah Abdullah, sedang Abu al-Nujud adalah nama panggilannya. Nama panggilan ‘Ashim sendiri adalah Abu Bakar, beliau masih tergolong tabi’in. Beliau merupakan mahaguru di Kufah dan wafat di kota tersebut pada tahun 127 H.

Imam Ashim menerima qira‘at dari Abu Abdurrahman bin Abdullah al-Salami, Wazar bin Hubaisy al-Asadi, dan Abu Umar Saad bin Ilyas al-Syaibani. Mereka bertiga menerimanya dari Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud menerimanya dari Rasulullah. Di antara para muridnya yang menjadi perawi qira‘at terkenal adalah Syu’bah (w.193 H) dan Hafs (w. 180H).

Imam Hamzah

Nama lengkapnya adalah Hamzah bin Habib bin ‘Ammarah bin Ismail al-Kufi. Beliau adalah imam qiraat di Kufah setelah Imam ‘Ashim. Lahir pada tahun 80 H., wafat pada tahun 156 H di Halwan, suatu kota di Iraq.

Beliau belajar dan mengambil qiraat dari Abu Hamzah Hamran bin A’yun, Abu Ishaq ‘Amr bin Abdullah al-Sabi’I, Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Ya’la, Abu Muhammad Talhah bin Mashraf al-Yamani dan Abu Abdullah Ja’far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainul ‘Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib serta Abdullah bin Mas’ud dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara para muridnya yang menjadi perawi qira’at -nya yang terkenal adalah Khalaf  (w. 150 H) dan Khallad (w. 229 H).

Imam Al-Kisa’i

Nama lengkap Imam Al-Kisa’i adalah Abu Hasan Ali bin Hamzah Al-Kisa’i. Nama panggilan beliau Abu Hasan dan beliau bergelar Kisa’i karena ia mulai melakukan ihram di Kisaa’i. Beliau wafat pada tahun 189 H. Beliau mengambil qira‘at dari banyak ulama.

Di antaranya adalah Hamzah bin Habib al-Zayyat, Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Laia, ‘Ashim bin Abun Nujud, Abu Bakar bin’Ilyasy, dan Ismail bin Ja’far yang menerimanya dari Syaibah bin Nashah (guru Imam Nafi’ al-Madani), mereka semua mempunyai sanad yang bersambung kepada Rasulullah. Murid-murid Imam Kisaa’i yang dikenal sebagai perawi yang dikenal sebagai perawi qira‘atnya adalah al-Lais (w. 240 H) dan Hafsh  al-Duuri (w. 246 H).

Untuk melengkapi jumlah qira‘at menjadi qira‘at ‘Asyarah (qira’at sepuluh) maka ditambahkan tiga qira‘at. Kemudian ditambah lagi empat qira’at untuk melengkapi jumlah qira’at menjadi qira’at Arba’ ‘Asyarah (qira’at empat belas) sehingga berjumlah empat belas.

Sedangkan qira‘at dari segi kualitas dapat dikelompokkan dalam empat bagian, yaitu mutawatir, masyhur, ahad, dan syadz. Qira‘at yang mutawatir adalah qira‘at yang disampaikan sekelompok orang mulai dari awal sampai akhir sanad, yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta.

Dalam penilaian jumhur ulama, qira‘at yang tujuh masuk dalam kelompok mutawatir ini. Qira‘at seperti ini oleh para ulama Al Qur’an dan Ahli Hukum Islam telah disepakati sebagai qira‘at yang dapat dijadikan pegangan dan hujjah dalam menetapkan hukum. (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat