Mengenal Asbabun Nuzul dalam Al Qur’an

www.griyaquran.org- Memahami hukum-hukum Al Qur’an tidak bisa hanya berpegang pada terjemah bahasa saja. Kita juga harus memahami sebab-sebab turunnya ayat, atau yang kerap disebut dengan  asbabun nuzul. Apa dan bagaimana asbabun nuzul itu akan dijelaskan dalam tulisan ini.

Al Qur’an adalah kalam Allah subhanahu wa ta’ala yang diberikan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur-angsur dan menjadi landasan kehidupan bagi seluruh umat Muslim.

Latar belakang dari turunnya ayat tidak hanya merespon masalah yang mengitari kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masyarakat sekitarnya, akan tetapi juga mengandung pelajaran bahwa wahyu Al Qur’an turun melalui proses dan melatih sebuah kesabaran.

Pengertian dari “Asbabun Nuzul” itu sendiri adalah semua yang disebabkan olehNya diturunkan suatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebabnya, memberi jawaban terhadap suatu sebab atau menerangkan hukum bila peristiwa itu terjadi.

Begitu pentingnya asbabun nuzul dalam memahami ayat Al Qur’an ditegaskan oleh Imam al-Wahidi:

“Seseorang tidak akan mengetahui tafsir (maksud) dari suatu ayat tanpa berpegang pada peristiwa dan konteks turunnya ayat.” (Jalalud Din as-Syuyuti, Lubâb an-Nuqûl fî Asbâbin Nuzûl, Beirut: Darl al-Kutub al Ilmiah, 1971, hal. 3)

Al-Wahidi memberikan pengertian bahwa asbabun nuzul yang melatarbelakangi turunnya ayat adalah suatu komponen penting yang harus diperhatikan bagi orang yang ingin memahami maksud dari Al Qur’an. Belajar tentang Al Qur’an tidak cukup hanya membaca terjemahannya saja, hal itu karena tidak semua terjemahan atau kitab tafsir memuat asbabun nuzul secara keseluruhan, sehingga potensi untuk salah paham akan besar.

Ada dua hal sebab turunnya suatu ayat, yaitu:

  1. Bila dulu terjadi suatu peristiwa yang baru atau belum ada peristiwa yang muncul sebelumnya, maka turunlah ayat Al Qur’an yang mengenai peristiwa baru tersebut.
  2. Bila rasulullah ditanya tentang suatu hal, maka turunlah ayat Al Qur’an menerangkan hukumnya. Hal itu seperti ketika Khaulah Binti Sa’labah dikenakan zihar oleh suaminya yaitu Aus bin Samit. 

Lalu ia mengadu kepada rasulullah, katanya: “Rasulullah, suamiku telah menghabiskan masa mudaku dan sudah berapa kali aku mengandung karenanya, sekarang setelah aku menjadi tua dan tidak beranak lagi, ia menjatuhkan zihar kepadaku! Ya Allah, sesungguhnya aku mengadu kepadamu”.

Dan di saat itulah, jibril turun dan membawa ayat, ayat tersebut:”Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suami nya yakni Aus bin Samit. Menurut hadis Ibn Majah dan Ibn Abi Hatim: disahihkan oleh al-Hakim, Ibn Mardawaih dan Baihaqi. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat