larangan menyekutukan Allah, melakukan perintah Allah, menaati perintah Allah

Larangan Menyekutukan Allah dalam Hal Apapun (I)

Rasulullah telah menyampaikan bahwa barang siapa yang menghayati 10 ayat awal S Al-Kahfi atau juga 10 ayat akhir S Al-Kahfi, agar terjaga dari fitnah Dajjal. Dan bila kita mau membaca surat tersebut, diawal surat tersebut ada sekelompok manusia yang mengatakan bahwa Tuhan beranak, dan di akhir surat tersebut diperintahkan kepada orang beriman untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.

Surat Al-Kahfi, didalamnya terdapat sebuah kisah pemuda-pemuda beriman yang diselamatkan oleh Allah, disebabkan karena mereka memegang teguh iman yang lurus mereka terpaksa harus mengasingkan diri. Akhirnya ditidurkan oleh Allah SWT selama 300 tahun lebih 9 tahun, atau ditidurkan oleh Allah selama 3 abad. Begitu pentingnya aqidah Tauhid, keyakinan hati untuk Mengesakan Allah, sampai-sampai mereka harus mengasingkan diri karena memegang Aqidah Tauhid.

Allah berfirman:

Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang diantara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan diantara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.” (QS. 18:32)

“Kedua kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,” (QS. 18:33)

“dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mu’min) ketika ia bercakap-cakap dengan dia:”Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat”.” (QS. 18:34)

“Dan dia memasuki kebunnya sedang ia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata:”Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,” (QS. 18:35)

“dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.” (QS. 18:36)

“Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya :”Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna.” (QS. 18:37)

“Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (QS. 18:38)

“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu “Maasyaa Allah, laa quwwata illaa billah” (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,” (QS. 18:39)

“maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin;” (QS. 18:40)

“atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” (QS. 18:41)

“Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”.” (QS. 18:42)

“Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang menolongnya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya,” (QS. 18:43)

“Disana pertolongan itu hanya dari Allah yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.” (QS. 18:44)

Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang di terbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. 18:45)

“Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. 18:46)

Memahami dan Menghayati Maksud Potongan Ayat Diatas

aksud dari ayat 32 sampai 36 adalah sikap hati dan perasaan orang yang bangga diri dengan harta, kekuasaan, dan segala usaha-usaha sukses di dunia. Seolah semuanya sudah final, tidak hirau dengan kehidupan akhirat, dan bahkan dia merasa bahwa dengan kesuksesan dalam harta benda dan kekuasaan di dunia itu, besok di akherat akan ditempatkan di tempat yang terhormat.

Ayat 37 menunjukkan sikap hati seorang mukmin, seorang beriman, mengingatkan kepada dirinya bahwa dirinya tidak berdaya sama sekali, bahkan Allah SWT lah telah menumbuhkan dirinya dari setitik air mani, dirinya benar-benar tidak berdaya.

Pada ayat 40 sampai ayat 44, ketika orang yang membanggakan hartanya, usahanya, dunianya, dan kemudian tiba-tiba terkena musibah , dan bahkan terkena bencana kehancuran, barulah sadar bahwa memang sikap hatinya selama ini salah. Seharusnya manusia tidak membanggakan dirinya, usahanya, atau kesungguhannya dalam menggapai kesuksesan dunia, namun seharusnya semuanya itu dikelola dalam rangka mengagungkan Allah, bersyukur kepada Allah.

Di ayat 45 dan 46 Allah SWT memberitahu tentang hakekat kehidupan dunia, antara pertumbuhan dan kemunduran senantiasa silih berganti. Ibarat musim yang selalu berganti, antara kering dan hujan, antara panas dan dingin, demikian pula belum tentu usaha yang dilakukan senantiasa sukses dan menuai keberhasilan, namun juga sering harus gagal dan menuai kebangkrutan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *