Al Quran sebagai penuntun, firman Allah, perintah Allah

Jadikan Islam Sebagai Penuntun (II)

Sudah seharusnya setiap umat muslim hanya berserah diri kepada Allah SWT dengan agama yang dibawa nabi Muhammad SAW, yaitu Islam sebagai sang penuntun dengan tidak mencampur-adukkan antara yang haq dan batil meskipun berdalih untuk bertoleransi. Rasulullah bersabda:

“Hai kaum Muslimin, hari (Jum’ah) ini adalah satu hari yang Allah Ta’ala jadikan hari raya. Karena itu hendaklah kamu mandi” [HR. Malik].

Adapun sabda nabi SAW yang menjelaskan perayaan umat Islam di hari raya idul fitri dan hari raya idul adha diantaranya yaitu:

Telah berkata Ummu ‘Athiyah, “Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami untuk membawa keluar anak-anak perempuan yang hampir baligh, perempuan-perempuan haidl dan anakanak perempuan yang masih gadis, pada Hari Raya ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha. Adapun wanita-wanita yang haidl itu mereka tidak shalat” [HR. Muslim].

Ketika kita mengucapkan selamat atas sesuatu, pada hakekatnya kita memberikan suatu ucapan penghargaan. Sebagai contoh jika saudara atau teman telah selesai masa studinya dan wisuda, maka kita ucapkan selamat kepadanya. Hal ini berarti kita memberikan penghargaan kepadanya berupa ucapan selamat atas wisudanya.

Demikian halnya ketika umat muslim mengucapkan selamat natal sama dengan memberikan penghargaan kepada ummat Kristen dan Khatolik yang merayakan. Padahal mengucapkan ucapan selamat sama dengan mendoakan, sedangkan mendoakan orang kafir jelas Allah SWT melarang kita sebagai umat muslim untuk mendoakannya. Sebagaimana Allah jelaskan di dalam QS. At Taubah/ 9: 80, 84, 85, 113. Dan nabi SAW sendiri mendoakan ibunya (kafir) saja dilarang, apalagi kita sebagai pengikutnya.

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Aku minta ijin kepada Tuhanku untuk memohonkan ampun kepada ibuku, namun Dia tidak mengijinkanku dan aku memohon ijin kepada Nya untuk menziarahi kuburnya maka Dia mengijinkanku (HR. Muslim).

Dan akan lebih selamat jika kita saling menghormati dan berjalan masing-masing untuk urusan ibadah, meskipun hanya ucapan salam, sebagaimana kebebasan yang diberikan Allah kepada kita untuk beragama sesuai dengan keyakinan kita. Allah SWT berfirman:

“Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” (QS. Al Kafirun/ 109: 6).

Di dalam QS. Al Mumtahanah/ 60: 4 Allah menegaskan bahwa nabi Ibrahim dan pengikutnya sampai kepada nabi Muhammad beserta pengikutnya hanyalah berserah diri kepada Allah dan bukan kepada kaum kafir yang menyembah selain Allah. Firman- Nya :

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah” . (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali” Nabi SAW melarang mendahului mengucapkan salam Sabdanya; “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nasrani dalam salam (ucapan selamat)” (HR. Muslim).

Dengan mengikuti hal yang mereka selenggarakan berarti umat muslim telah menyerupai orang-orang kafir. Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia adalah termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga walaupun mereka memasuki lubang biawak, kalian tetap mengikutinya” . Kami (shahabat) bertanya, “Ya Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nashrani ?” . Beliau bersabda, “Lalu, siapa lagi ?” [HR. Bukhari juz 8, hal. 151].

Oleh sebab itu, marilah kita selalu mengikuti ajaran Rasulullah sebagai panutan kita untuk menjadikan Islam sebagai penuntun kita ke surga bukanlah sebaliknya ke neraka, hanya karena kita mengikuti trend dan jaman yang sebenarnya tidak dituntunkan oleh Rasulullah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *