Ikhlas dalam Berbuat Kebaikan (II)

Ikhlas saat memberi kepada sesama bisa berbentuk apa saja, tidaklah harus berwujud makanan. Hal terpenting dalam pemberian tersebut dilakukan dengan ikhlas. Dan apa yang diberikan bukanlah sesuatu yang sudah atau tidak disukainya.

Janganlah memberikan makanan yang buruk yang bahkan diri sendiri tidak mau memakannya, juga janganlah memberi sesuatu yang diri sendiri tidak mau menggunakannya. Berikanlah mana yang disukai dari apa yang dimiliki.

Ingatlah bahwa kebaikan yang sempurna adalah mampu memberikan apa yang disukai dan dicintai dengan haq, dan hanya mengharap ridha Allah saja. Allah berfirman:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” [QS. Ali Imran 92]

Rasulullah bersabda:

“Dari Abu Umamah, ia berkata : Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW lalu bertanya : «Bagaimanakah pendapat engkau apa-bila ada seorang laki-laki berperang untuk mencari pahala dan nama ? Lalu apa yang ia dapat ?» Maka Rasulullah SAW bersabda : «Ia tidak mendapatkan apa-apa». Orang itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, dan Rasulullah SAW menjawab : «Ia tidak mendapatkan apa-apa». Kemudian beliau bersabda : «Sesungguhnya Allah ‹Azza wa jalla tidak mau menerima amal kecuali amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan mencari keridlaan-Nya».” [HR. Abu Dawud dan Nasai dengan sanad yang baik]

Keikhlasan dalam beramal yang hanya mengharap ridha-Nya akan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Balasan tersebut dapat diberikan ketika di dunia maupun kelak di akhirat.

Terdapat sebuah kisah dimana amalan seseorang bisa membantunya dikeluarkan dari kesulitan yang menimpanya atas seijin Allah. Rasulullah bersabda:

“Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin ‹Umar bin Khaththab RA ia berkata : «Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : «Terjadi pada masa dahulu sebelum kamu, ada tiga orang berjalan-jalan hingga terpaksa bermalam di dalam gua. Setelah mereka itu masuk ke dalam gua itu, tiba-tiba jatuh sebuah batu besar dari atas bukit dan menutup pintu gua itu, sehingga mereka tidak dapat keluar.

Maka mereka berkata: Sesungguhnya tidak ada yang bisa menyelamatkan kamu sekalian dari bahaya batu ini, kecuali kalian berdoa kepada Allah Ta’ala dengan amal amal shalih yang pernah kamu lakukan dahulu. Lalu salah seorang di antara mereka berdoa : «Ya Allah, dahulu saya mempunyai ayah dan ibu yang sudah tua, dan saya biasa tidak memberi minuman susu kepada seorangpun sebelum keduanya, baik kepada keluarga atau hamba sahaya. Dan pada suatu hari, saya menggembala agak jauh sehingga tidak bisa kembali kepada keduanya kecuali telah malam dan ayah ibu saya telah tidur. Lalu saya memerah susu untuk keduanya. Aku mendapati keduanya sedang tidur nyenyak dan saya pun tidak mau membangunkan keduanya, dan saya pun tidak mau memberikan minuman itu kepada siapapun sebelum kepada keduanya, baik kepada keluarga maupun kepada hamba sahaya. Maka saya tetap menunggu bangunnya ayah dan ibuku dengan membawa bejana tempat susu itu hingga terbit fajar. Maka ayah ibuku bangun lalu minum susu yang saya perah itu. Padahal malam itu juga anak-anak saya menangis minta susu itu di dekat kakiku. Ya Allah, jika saya berbuat itu benar-benar karena mengharapkan keridloan-Mu, maka lapangkanlah keadaan kami ini dari bahaya batu ini».

Lalu batu itu bergeser sedikit, tetapi mereka belum bisa keluar dari gua itu. Orang yang lain (orang yang kedua) : «Ya Allah, dahulu saya pernah jatuh cinta pada seorang gadis anak paman saya». Dan dalam suatu riwayat, «Saya sangat mencintainya sebagaimana orang-orang laki-laki jatuh cinta kepada wanita, sampai saya ingin berzina padanya, tetapi dia selalu menolak. Sampailah pada suatu hari, tibalah tahun paceklik dan wanita yang sangat saya cintai itu menderita kelaparan, lalu ia datang minta bantuan kepadaku, maka aku berikan kepadanya uang seratus dua puluh dinar dengan janji bahwa dia mau menyerahkan dirinya kepada saya, sehingga ketika saya berleluasa padanya», dan dalam suatu riwayat disebutkan : «Maka setelah saya berada diantara dua kakinya, tiba-tiba ia berkata : «Takutlah kamu kepada Allah dan janganlah kau pecahkan tutup kecuali dengan halal !»

Lalu saya bangun darinya meskipun saya sangat mencintainya, dan saya biarkan uang emas yang telah saya berikan kepadanya itu. «Ya Allah, jika saya berbuat yang demikian itu semata-mata mengharap keridhoan-Mu, maka hindarkanlah kami dari bahaya ini». Lalu batu itu bergeser sedikit, tetapi mereka tetap belum bisa keluar dari gua itu. Dan orang yang ketiga berdoa : «Ya Allah, dahulu saya mempunyai banyak buruh dan karyawan. Dan pada waktu gajian saya telah memberikan gajinya kepada mereka itu, kecuali satu orang yang belum saya berikan gajinya, karena dia pergi dan tidak mengambil gajinya itu. Kemudian gaji orang tersebut saya kembangkan sehingga menjadi harta yang banyak. Kemudian setelah waktu yang lama, orang itu datang kepada saya dan berkata : «Hai hamba Allah, berikan kepadaku gaji saya !»

Lalu saya menjawab : «Semua yang kamu lihat itu dari gajimu, berupa unta, sapi, kambing dan budak penggembala itu». Dia berkata : «Hai hamba Allah, janganlah kamu mengejek kepadaku» Lalu saya berkata : «Saya tidak mengejek kepadamu». Lalu dia mengambil semuanya itu dan menggiringnya, dan dia tidak meninggalkan sedikitpun dari semua itu. Ya Allah, jika saya berbuat yang demikian itu semata-mata mengharap keridloan-Mu, maka hindarkanlah kami dari bahaya ini». Kemudian batu itu bergeser lagi sehingga mereka bisa keluar, lalu mereka keluar dengan berjalan.” [HR. Muttafaq‘alaih]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *