Dengan Al-Quran Membangun Moral Keadilan dan Kemakmuran

Allah telah menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan yang tepat bagi penyelesaian masalah-masalah kehidupan umat manusia. Karena memang Allah lah yang mengadakan kehidupan, dan Allah pula yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk jalan lurus dan benar dalam mengisi kehidupan.

Manusia sudah pasti menginginkan kehidupan yang adil dan makmur. Bentuk nyata kemakmuran dapat dicapai dengan produktivitas fisik, sedangkan keadlian dicapai dengan produktivitas psikis.

Menggapai kemakmuran pada dasarnya lebih mudah dibanding dengan menggapai keadilan. Hal ini dikarenakan kemakmuran berkaitan dengan fisik, dan keadilan membutuhkan kesungguhan manusia dan membangun psikis.

Allah telah menumbuhkan moral keadilan dalam jiwa manusia dengan sifat taqwa yang wujud di hati manusia, antara lain:

“…….Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang akamu kerjakan. (QS. Al-Maaidah:  8 )

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi.Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Qashash: 83)

“Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-Qashash: 84)

Menjadi adil haruslah dibiasakan dari diri sendiri. Semakin besar iman yang dimiliki manusia, rasa keadilam dalam diri pun akan semakin muncul. Tebalnya iman dapat dijaga dengan ilmu dan ibadah-ibadah khusus, namun sifat taqwa dibutuhkan pembiasaan-pembiasaan yang terus menerus agar manusia suka beramal nyata.

Manusia yang sadar dalam ketaqwaannya tidak akan pernah ingin mencelakai dirinya sendiri dan orang lain dengan amal-amal yang buruk dan jahat. Sehingga dia akan selalu menempuh jalan-jalan kebaikan untuk diri dan orang lain. Banyak orang yang ingin mendapat kenyamanan dan kenikmatan untuk diri sendiri digapai dengan jalan menyengsarakan, menyusahkan, mencelakai orang lain. Dapat dipastikan orang yang melakukan tersebut adalah orang yang sedang kehilangan kesadaran. Karena segala kejahatan yang telah dia perbuat dan menghasilkan kenikmatan itu, pada suatu saat akibat buruknya akan dipetik dan ditanggung olehnya. Bila orang-orang ini menyadari tentu mereka tidak akan mau berbuat jahat.

Namun perlu diingat faktor sangat kuat yang mempengaruhi manusia, membisik kedalam hati manusia yaitu bisikan syaitan. Allah berfirman:

Iblis berkata:”Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka”. (QS. Al-Hijr: 39-40)

”Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya).” (QS. Al-Hijr: 41)

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr: 42)

Umat manusia tidak akan pernah mampu menghilangkan sifat-sifat jahat dalam dirinya kecuali harus dengan bimbingan Allah SWT. Manusia akan menjadi makmur dan berkeadilan bila masing-masing manusia telah mengetahui dan menyadari akan adanya musuh yang ada di dalam dirinya masing-masing yaitu iblis yang selalu berusaha menggelincirkan manusia dari jalan lurus yang ditempuh oleh umat manusia.

Dan untuk mengalahkan Iblis laknatullah itu tidak ada cara lain kecuali dengan petunjuk Allah, hidayah Allah, tuntunan Allah, cahaya dari Allah, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan sebenarnya hal itu sudah diketahui oleh nenek moyang kita yang sholih-sholih yang telah bahagia hidup dengan tekun berpegang teguh kepadanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *