Puasa: Mengubah Diri Lebih Baik Menuju Taqwa (I)

Umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah yang lain di bulan ramadhan harus memiliki tujuan yang satu, yaitu menuju ketaqwaan.

Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. [QS. Al-Baqarah : 183]

Allah hanya menyeru kepada orang-orang yang beriman, bukan kepada orang Islam secara keseluruhan dan bukan pula kepada seluruh manusia. Jadi salah satu ciri orang-orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang menegakkan ibadah puasa ramadhan sebagai wujud dari keimanan mereka.

Tak sedikit manusia yang berpuasa di bulan Ramadhan namun hanya mendapat rasa haus dan lapar saja. Hal ini disebabkan lidah dan ulah manusia tersebut.

Rasul bersabda:

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata- kata dusta dan perbuatan dusta, maka tidak ada kebutuhan bagi Allah dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya “. [HR. Bukhari juz 2,hal. 2281].

Taqwa berarti menaati Allah dan senantiasa tidak lupa bersyukur dan tidak kufur kepada-Nya. Taqwa adalah perbuatan dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah dan tidak melakukan maksiat kepada-Nya.

Pada prinsipnya, puasa ramadhan akan selalu ditandai dengan perubahan dalam diri pelakunya dan masyarakat sekitarnya dengan mengalirnya amal saleh dan berbagai perbuatan terpuji lainnya. Jika setelah ramadhan seseorang selalu berbuat baik dan bisa memberikan peran untuk perubahan masyarakat di sekitarnya sampai ia menghadap Allah SWT, maka jelas ia tergolong kelompok manusia yang meraih gelar takwa dan pahala yang akan kelak ia dapatkan adalah surga.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah memasukkan orangorang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera”. (QS. Al Hajj: 23)

Tetapi sebaliknya, jika setelah melaksanakan ibadah ramadhan seseorang masih bersikap sama seperti sebelum melaksanakan ramadhan, dapat diartikan ramadhan yang dilaluinya tidak berkah dan ia gagal meraih predikat taqwa.

Namun sebagai manusia, kita tidaklah dapat menilai apakah manusia tersebut telah mendapat predikat taqwa atau tidak. Penilaian tersebut adalah kuasa dan kehendak Allah. Yang pasti, seseorang yang benar-benar taqwa akan mengubah perilakunya ke arah yang positif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *