Menumbuhkan Kejujuran Agar Tercipta Akhlakul Karimah (II)

Ada dua cara agar kita selalu hidup jujur dan hati kita terhindar dari kerusakan. Pertama adalah hendaknya mengingat sifat ihsan, ada dan tiada perbuatan semuanya terlihat dan merasa dilihat Allah. Yang kedua, hendaknya selalu mengingat bahwa manusia akan mati.

Dengan mengingat mati maka manusia menyadari bahwa hidup itu tidak lama, dan dengan mengingat mati manusia menyadari bahwa dirinya sedang menunggu pulang kehadirat Illahi.

Nilai-nilai kejujuran yang dilandasi oleh nilai-nilai religius di atas paralel dengan nilai-nilai etika moral yang berlaku secara umum. Tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan adalah sebuah tempat bagi manusia untuk mengembangkan nilai-nilai kejujuran, sehingga output dari dunia pendidikan tersebut adalah sumber daya insani  yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran.

Belajar kejujuran yang pertama adalah dari kejujuran yang ada dalam keluarga dan yang ada di sekolah. Dalam keluarga yang baik atau di sekolah yang baik, yang meletakkan basis pemahaman yang agamis, kita selalu saja diajarkan agar selalu bersikap jujur. Hidup dengan kejujuran selalu saja dijadikan sebagai sebuah jalan yang bisa mengantarkan kita kepada posisi selamat.

Kecurangan adalah bentuk ketidakjujuran dalam dunia pendidikan yang idealnya menjadi tempat belajar bagi anak-anak atau bahkan kita sendiri untuk belajar kejujuran. Sekolah yang selama ini menjadi harapan bagi kita untuk membangun sikap-sikap positif yang mulia, seperti berakhlak baik dalam artian menjunjung nilai-nilai kejujuran, sopan santun, dan sebagainya ternyata sekarang semakin sirna.

Pentingnya Menjaga Amanah

Oleh karena itu, perlu memposisikan sekolah sebagai basis untuk belajar kejujuran adalah sesuatu yang perlu dilakukan. Pola-pola ketidakjujuran yang terjadi dalam dunia pendidikan harus mendapat respon yang sangat tegas dari semua elemen bangsa termasuk orang tua dan murid.

Menanamkan kejujuran di setiap tempat perilaku, terutama di sekolah, akan membuat sekolah kembali menjadi tempat yang sangat penting dalam menumbuhkan nilai-nilai kejujuran sumber daya insani Indonesia.

Memelihara amanah itu sebagaimana memelihara kejujuran mudah diucapkan tetapi sangat berat dalam pelaksanaan. Membina diri untuk jujur dan amanah adalah tidak sesederhana dalam wacana tetapi memerlukan potensi dan waktu yang relatif panjang.

Ketahuilah bahwa jujur merupakan bagian dari kepribadian yang merupakan hasil dari proses internalisasi nilai-nilai yang sangat lama oleh karena itu perlu komitmen bersama untuk menciptakan kejujuran pada diri kita maupun anak-anak generasi muda kita .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *