Your browser (Internet Explorer 7 or lower) is out of date. It has known security flaws and may not display all features of this and other websites. Learn how to update your browser.

X

Menggapai Barakah Hidup dengan Al-Qur’an

Semua orang menginginkan hidup yang mulia, tentram keluarganya, mempunyai putra putri yang menjadi penenang jiwanya, rezeki yang cukup, teman-teman yang saleh, tetangga yang baik, dan kebaikan-kebaikan yang bertaburan dan berjuta banyaknya. Manusia, pada prinsipnya selalu berusaha menarik kebaikan menuju dirinya dan menolak segala keburukan yang mengarah kepadanya.

Manusia menyukai kebaikan yang melimpah, dan inilah makna berkah, istilah berkah diambil dari bahasa arab “barakah”. Pada umumnya, barakah biasanya diartikan hidup berkecukupan walau penghasilan pas-pasan, bisa menyekolahkan putra-putri di sekolah-sekolah yang berkualitas dengan pekerjaan biasa-biasa saja, bisa menghafal al Quran walau ditelan kesibukan pekerjaan. Mampu berkontribusi dan berkarya tanpa sebuah jabatan.

Dalam al Quran yang menjadi ruh kedua manusia atau menurut Sya’rawi sebagai ruh-nya ruh, diterangkan tentang hal-hal yang memiliki barakah, dampak keberkahan, hingga nanti didapat kesimpulan tentang bagaimana diri dan keluarga kita memperoleh berkah dan lebih jauh bagaimana kita membawa berkah dimasyrakat manapun kita berada, bukan hanya penikmat barakah tetapi sebagai penyuplai barakah di setiap lingkungan kita bertempat.

Al Quran menjelaskan hal-hal yang dikarunia Allah barakah antara lain sebagai berikut; Al Quran (QS. Al an’am: 92,155, Al anbiya:50,shad:29.  nabi-nabi misalnya Isa (Qs. Maryam:31), makkah (QS. Ali Imran:97), bumi syam (QS.al anbiya’:71), pohon zaitun (QS. Al Nur: 35), sebagian hujan (QS. Qaf:9), daerah sekitar masjid al Aqsha (al isra’: 1), malam lailatil Qadr (QS.al Dukhon:3) dll. Adapun Hadis nabi sebagai penjelas al Quran memberi pengkabaran sebagai berikut; disetiap sepiring makanan ada satu biji nasi yang berbarakah, sahur mengandung barakah, dalam pohon kurma sebagaimana hadis berikut;

Sesungguhnya diantara pepohonan ada pohon yang barakah sebagaimana barakahnya muslim. (HR. Bukhori)

Diantara hal yg barakah adalah pohon Zaitun, diantara barakahnya atau kebaikannya adalah bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, dipakai sebagai bahan bakar, dll. Masjidil Aqsho karena keutamaan dan barakahnya maka  daerah sekitarnya diberkahi Allah dengan beraneka macam tumbuhan, disini jelas sekali bagaimana masjid al Aqsha membawa dampak kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.

Sebagaimana masjidil Aqsha, dan buah Zaitun manusia akan menjadi barakah jika kehadirannya membawa dampak baik bagi lingkungannya, jika keberadaannya membawa aura positif, membawa nuansa persahabatan misalnya, membawa nuansa al Quran, membawa semangat belajar, membawa semangat berjuang, membawa agama islam ke setiap jengkal kehidupan.

Untuk contoh manusia, nabi Isa dalam Quran dijadikan Allah sebagai sosok yang ber-barakah. Berbagai kitab tafsir mengemukakan beberapa alasan yang menjadikan Isa barakah hidupnya; dintaranya adalah karena dia mengajarkan kebaikan, mengajak kepada Allah, kepada tauhid dan beribada kepada Allah. Dalam Ruh Ma’ani, Barakahnya Isa karena dia bermanfaat, diantara bermanfaatnya adalah menyembuhkan kebutaan dan penyakit kusta. Sufyan menilai mengajarkan kebaikan, menyeruh kepada kebenaran dan mencegah kemungkaran sebagai barakahnya Isa. Dhahak: Memenuhi kebutuhan orang lain. Tafsir tusturi Mengarahkan orang yang tersesat, menolong orang yang didhalimi.

Keterangan di atas menggambarkan bahwa kontribusi atau kemanfaatan adalah unsur utama yang menjadikan sesuatu barakah, dan meluap kebaikannya. Senada dengan hadis nabi yang menyatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya. Jadi Manusia yang paling barakah adalah manusia yang paling besar kemanfaatannya. Semakin luas area kemanfaatan yang kita jangkau semakin besar pulah barakah kita.

Dalam hadis mengenai keberkahan kurma tadi nyata betul bahwa Muslim adalah sesorang yang mempunyai berkah. Kurma yang memiliki manfaat disamakan dengan muslim sebagai tolak ukur. Muslim adalah orang yang menyelamatkan orang lain, dari kejahatannya sendiri dan dari kejahatan orang lain pula. Muslim jugalah orang yang selalu menebarkan aura Ibadah dimanapun dia berada, karena salatnya adalah dakwah, kerjanya adalah dakwah, kelembutan tutur katanya adalah dakwah. Semua perilakunya adalah dakwah karena mengajak kepada Allah sebagaimana nabi Isa di atas.

Dengan al Quran yang berbarakah, dengan para nabi yang barakah, selayaknya kita selalu mengembangkan kualitas dan kuantitas kebaikan diri, agar barakah kita semakin berlimpah, kehadiran kita dirasakan oleh sekeliling kita, sebagaimana masjiq Aqsha bagi sekelilingnya, semangat kita beribadah, keinginan kita menghafal Quran, dan beraneka jenis kebaikan yang lainnya semoga menggerakkan dan meluap mempengaruhi masyarakat dimana kita berada. Mungkin itu yang dinamakan barakah.

ahadmin

Leave a comment

name

email (not published)

website