Beramal Semata-Mata Karena Allah SWT

Amalan shalih akan berhasil jika dua syarat telah terpenuhi. Kedua syarat yang dimaksud telah sesuai aturan (syariah) yang benar dan ikhlas.

Pertama, sesuai aturan Allah SWT. Allah berfirman:

“Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

Kedua, ikhlas dalam beramal. Ikhlas adalah ruh amalan.

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niat dan sesungguhnya setiap orang itu mendapatkan balasan sesuai dengan yang diniatkannya.” (Muttafaqun’alaihi)

Agar kita dapat berlaku ikhlas, kita perlu melakukan beberapa hal sebagai sarana untuk mendidik diri agar tetap berpikir hanya Allah sajalah yang membalas amalan kita. Beberapa hal tersebut adalah:

1. Selalu berdoa agar amalan yang akan, sedang dan sudah dilakukan tetap terjaga sampai kita sendirian masuk dalam kubur.

Rasulullah bersabda:

“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (HR.Ahmad)

2. Jangan mempertontonkan/memperdengarkan/menyebutkan amalan atau sejenisnya, karena itulah pemicu ketidakikhlasan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan mesjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya.” (HR.Bukhari Muslim).

3. Selalu bersyukur dan tak bergeming ketika dipuji maupun dicaci

Standar penilaian diserahkan kepada Allah SWT bukan kepada makhluk. Janganlah jadikan pujian atau celaan orang lain sebagai sebab kita beramal saleh, karena hal tersebut bukanlah termasuk perbuatan ikhlas.

Rasulullah SAW bersabda:

“Ada tiga golongan, yang tidak akan Allah ajak bicara pada hari kiamat, tidak akan Allah lihat, dan tidak akan Allah sucikan, serta baginya adzab yang pedih. Rasulullah mengulang sebanyak tiga kali. Abu Dzar bertanya : Siapa mereka wahai Rasulullah ? Sabda beliau : Al musbil (lelaki yang menjulurkan pakaiannya melebihi mata kaki, al mannaan (orang yang suka menyebut-nyebut sedekah pemberian), dan pedagang yang bersumpah dengan sumpah palsu” (HR.Muslim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *