Inilah Penyakit yang Ditakuti Orang Beriman

Inilah Penyakit yang Ditakuti Orang Beriman

Penyakit yang paling ditakuti orang yang berimana adalah ar-riya’. Seseorang dengan penyakit ini menginginkan orang lain mengetahui perbuatan baik apa yang telah dilakukannya. Dengan kata lain, ia tidak mengharapkan pahala dari Allah, tetapi hanya mengharapkan imbalan atau pujian dari makhluk. Orang seperti ini hakikatnya telah berpindah tuhan kepada makhluk. Meski tidak sampai pada tahap menyembah, namun sedikit kemusyrikan muncul di dalamnya. Itulah mengapa Rasulullah SAW menganggap perbuatan riya’ sebagai syirik kecil. Baca selengkapnya

Pentingnya Menjaga Mulut dalam Berucap

Pentingnya Menjaga Mulut dalam Berucap

Dalam Al Quran, diberikan petunjuk bagi umat manusia dengan baik tentang cara berkomunikasi melalui mulut. Jangan sampai kita menggunakan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan orang lain.

Berkatalah dengan qaulan syadidan (perkataan yang benar dan lurus), berkatalah dengan qaulan balighan (perkataan yang menyentuh lubuk hati), dan berkatalah dengan qaulan layyinan (perkataan yang lembut/menyenangkan). Ketiga perkataan tersebut, bila dilaksanakan dengan benar, akan dapat mewujudkan komunikasi yang bebas dari rintangan dan hambatan (efektif).

Bagi kaum sufi, memelihara mulut dengan kata-kata yang benar dan menyenangkan sangat diutamakan. Kata mutiara diam adalah emas bagi mereka dapat menjunjung tinggi martabat daripada kata-kata yang dapat menyia-nyiakan amalnya. Demikian hati-hatinya sang sufi, sehingga Rabi’ al-Khaitam — seorang sufi ternama — setiap hendak berbicara ia menyiapkan kertas dan pena untuk menulis dan mengevaluasinya.

Al Quran dan Hadis mendorong setiap orang yang hendak berbicara agar menggunakan daya intelektual dan kematangan emosinya. Allah berfirman:

“Janganlah mengikuti apa yang engkau tak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS al-Isra’ [17]: 36).

Rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, berbicaralah dengan baik atau diam.” (HR Bukhari Muslim). 

Memelihara mulut dengan daya intelek dan kematangan emosi merupakan tindakan terpuji. Daripada mengeluarkan kata-kata yang mungkin akan menyinggung perasaan orang lain, akan lebih baik jika digunakan untuk berdzikir kepada Allah. Dengan cara seperti inilah, kita dapat mempererat tali persaudaraan, dengan menghindarkan diri dari mengatakan julukan/gelar yang menyakitkan orang lain.

“Banyak pemuda”, kata Lukman al-Hakim, “yang mati karena terpeleset kata-katanya, tetapi hampir tidak ada yang mati karena terpeleset kakinya.” Hadis Nabi: “Muslim yang sejati adalah Muslim yang memberi keselamatan  terhadap Muslim lainnya, baik dengan mulut maupun dengan tangannya”. (HR Bukhari dan Abu Daud).   

Al Quran juga melarang keras orang memanggil dengan julukan yang kotor dan menyakitkan (QS al-Hujurat [49]:11). Mengomentari ayat ini, pakar tafsir, Ibnu Jarir menjelaskan, gelar/julukan sebenarnya tidak dilarang, bila julukan itu mengandung sifat terpuji, seperti julukan al-Athiq (pembebas budak) yang diberikan kepada Abu Bakar, al-Faruq (juru pemisah benar dan batil) kepada Umar, Abu Turah (bapak tanah/pemurah hati) kepada Ali, dan julukan Syaifullah (pedang Allah) kepada Khalid bin Walid.